Re: [PersIndonesia] Partai Nomadisme Politik > Mohon dukungan dan doa restu, PMB dan saya amanah, membela dan sesuai harapan rakyat.

Mas Istijar dan temans,

Seingat saya (saya pernah baca semua), dengan UUD 45 yang telah di ammendement, Presiden tidak bisa membubarkan parlemen dan Insyaallah pemilu 2009 akan berjalan dengan baik berdasarkan pengalaman pemilu dan pilkada selama ini relatif toleran dan tertib.

Insyaallah, jika memperoleh mandat sebagai Anggota DPR RI, saya sebagai alumni Muslim lulusan ITB Elektro yang telah pengalaman di Perbankan negara dan sebagai pengusaha di sektor riil selama 20 tahun, kekhawatiran terhadap partai politik yang sudah ada tidak akan terjadi di PMB dan diri saya.

Insyaallah saya akan amanah dan memperjuangkan semua yang pernah saya posting di milist milist yang saya sebagai anggotanya, karena hal tersebut saya yakini sebagai sebagian dari strategi strategi untuk memajukan bangsa Indonesia secepatnya.

Daerah pemilihan saya adalah Dapil II Jawa Timur meliputi Pasuruan dan Probolinggo, sebagai calon Anggota DPR RI dari Partai Matahari Bangsa/PMB dengan nomor urut 1.

Saya menerima pencalonan sebagai anggota DPR RI ketika ditawari oleh Pengurus PMB adalah benar benar karena merasa terpanggil untuk berpartisipasi dalam memajukan bangsa Indonesia agar bisa secepatnya mandiri dan lebih makmur yang berkeadilan bagi seluruh rakyat Indonesia dengan berpedoman kepada Quran dan hadist yang shohih yang menjadi dasar partai PMB yaitu Islam Rahmatan lil alamien yang juga Pancasilais dan Nasionalis.

Mohon doa restunya agar saya benar benar terpilih dan mohon masukan bagi yang mengenal daerah Probolinggo dan Pasuruan termasuk kontak person yang bisa saya hubungi dan ketemu untuk mendukung serta mengetahui lebih detail potensi daratan dan lautan apa saja yang bisa saya bisa ikut partisipasi untuk memajukan daerah tersebut yang merupakan represenasi dari daerah darat dan lautan wilayah Indonesia secara keseluruhan.

Salam,
Zaenal

Emacs!

http://www.pmb.or.id/

18 DeLaPAn BELaS = Demi membeLa PerjuangAn Bangsa agar Ekonominya Lancar Sejahtera

At 14:48 12/10/2008, Muhammad Istijar wrote:

Partai Nomadisme Politik

Pada diskusi wartawan di kantor Jakarta Post pertengahan September, seorang kawan berulang kali mengungkapkan pesimisme terhadap kondisi politik nasional. Kata kawan tersebut, Indonesia akan mengulang kesalahan yang sama di masa lalu: membiarkan rezim diktator kembali berkuasa. Alasannya, parpol hanya sibuk berebut kue kekuasaan yang berujung pada kericuhan satu sama lain.

Kondisi negara menjadi kacau balau. Saat kondisi ini, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono didukung militer mengeluarkan dekrit presiden membubarkan parlemen serta memperkecil jumlah parpol, seperti mengikuti langkah presiden Soekarno yang mengeluarkan dekrit pembubaran parlemen tahun 1959.

Rasa takut yang berlebihan, memang. Namun itu bisa sedikit relevan jika mengutip hasil riset dari Quest Research Indonsia dan Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP). Riset itu dilakukan pertengahan Juni 2008 dengan melibatkan 14.229 responden di 20 provinsi dan 49 daerah pemilihan.

Hasil riset itu menunjukkan, 70,5 persen responden menilai parpol tidak mampu melakukan perubahan yang diharapkan masyarakat. Kinerja parpol dinilai sangat buruk dengan penilaian 65,7 persen. Parpol dinilai hanya mengumbar janji, tidak memperhatikan rakyat serta mementingkan diri dan kelompok/golongan. Parpol juga dinilai tidak mampu menyejahterakan rakyat dan tidak mampu melakukan perubahan (Media Indonesia, 20/9).

Kondisi ini menimbulkan apatisme politik. Pemahaman terhadap dunia politik hanya sekadar berada di panggung semu; perebutan kursi parlemen, presiden dan wakil presiden. Alhasil gap (batas pemisah) antara parpol dengan konstituen semakin besar.

Masyarakat sebagai konstituen tidak lagi mengenal wakil mereka di parlemen. Parpol yang mengusung para kandidat tidak pernah memperjuangkan kesulitan-kesulitan yang dihadapi masyarakat. Keterikatan batin antara pemilih dan yang dipilih, yang merupakan ruh pemilihan umum dan politik perwakilan, semakin terkikis dan hilang.

Dalam teori ilmu politik modern, risiko kongkret demokrasi adalah mencuatnya angka apatisme masyarakat untuk memberikan partisipasi politik. Kondisi ini membuat ‘perjuangan’ membangun demokrasi modern melalui parpol berbasis masyarakat pudar. Padahal, kuatnya sistem demokrasi di negara modern hanya akan ditunjang oleh sistem kepartaian yang kuat dan dipercaya publik.

Nomadisme Politik

Kondisi apatisme politik tidak terlepas dari prilaku nomadisme politik. Menjelang pemilu, partai politik tumbuh tanpa kendali. Aliansi-aliansi politik terbentuk tanpa konsistensi. Demokrasi yang dipahami sebagai apa pun boleh dilakukan merupakan efek dari demokrasi yang dicampuradukkan dengan anarki.

Elit politik lahir tanpa memiliki keterampilan, kecerdasan dan visi politik. Secara kasar, tukang becak dan pelawak pun bisa tampil sebagai elit politik. Petualang politik menjadi petualang yang tanpa memiliki rasa malu dan etika. Lembaga politik menjadi tempat persinggahan politik untuk sekadar merealisasikan kepentingan pribadi atau kelompok.

Dunia politik yang dibangun tanpa fondasi, konsistensi, dan indentitas seperti ini hanya menciptakan para petualang politik atau nomad politik. Nomadisme politik menjadi ideologi setiap pelaku yang ingin tampil di panggung kekuasaan. Nomadisme politik merupakan para politisi, kelompok partai dan parpol yang menjadikan perpindahan sebagai paradigma dan ideologi politik (Yasraf A Pilliang, 2005).

Politisi berpindah partai, bertukar identitas dan baju politik. Parpol berubah citra, berganti lambang, bertukar motto. Bertukar-tukar baju, kulit atau warna, berganti-ganti wadah, institusi, organisasi dan kelompok dalam dunia politik menjadi hal lumrah, selama dapat menjaga dan meraih kepentingannya.

Para politisi nomad ini tidak pernah memiliki ketetapan dan konsistensi pada tingkat keyakinan atau ideologi politik. Baginya keyakinan dan ideologi hanya sebuah alat atau tempat persingahan untuk merealisasikan kepentingan pribadi, kelompok atau partainya, bukan kepentingan rakyat dan bangsa.

Hasrat pribadi, kelompok dan partai mengalahkan semua kepentingan rakyat dan bangsa yang lebih besar. Slogan tidak ada kawan dan lawan abadi karena yang ada kepentingan abadi menjadi slogan paling popular.

Sehingga rakyat semakin malas mengikuti perkembangan politik nasional yang sudah terserang wabah apatisme. Calon presiden, calon wakil presiden, calon anggota legislatif hingga calon bupati, bertransaksi demi kepentingan pribadi, kelompok atau parpol.

Lebih memprihatinkan lagi, tidak sedikit calon membawa dan mengusung ‘bagasi lama’ yang penuh kesalahan dan berlumuran darah. Parpol berlomba menggunakan jalan pintas untuk meningkatkan perolehan suara melalui area rumah panggung popularitas. Politik make up, pencitraan, iklan dan keartisan menjadi jalan pintas yang paling banyak ditempuh.

Bak sinetron, figur-figur calon pemimpin politik dilihat hanya dalam bentuk fisik; kecantikan dan ketampanan. Itulah selera pasar yang mendikte. Fitur citra, penampilan, wajah, sensasi, gelar kebangsawan lebih penting daripada tingkat intelektual dan kharisma kepemimpinan.

Visi, misi dan program parpol menjadi urusan nomor sepatu. Tidak mengherankan jika Pemilu 2009 hanya pesta pengusaha dan bandar uang yang serba wah yang tidak ada junterungannya. Coba tengok hasil pemilu 2004 lalu? Tidak ada program yang radikal dihasilkan hasil pemilu tersebut.

Ideologi parpol telah mati, semati ideologi negara versi Fukuyama, dalam bukunya “The End of Ideology”. Tidak ada perbedaan antara partai yang dibesarkan era Orde Baru dengan era pasca tumbangnya rezim Soeharto. Bahkan tidak ada perasaan malu mengkawinkan partai Orde Baru dengan partai ‘korban’ Orde Baru.

Pesimistis boleh saja diluapkan semuanya. Namun itu tidak akan mengubah kondisi. Mungkin sudah saatnya bangsa ini mencari pemimpin transformatif. Pemimpin sekelas Soekarno, Imam Khomeini, Nelson Mandela hingga Barack Husein Obama.

Pemimpin transformatif bukan cuma dibentuk lewat pengalaman, tetapi sejatinya dilahirkan, seperti pepatah “dilahirkan untuk memimpin”. Pemimpin transformatif dikaruniai kharisma sebagai modal diri dengan gagasan ideal tentang bangsa, negara dan rakyat.

Ia selalu berada di garis terdepan. Sepanjang hayat dikandung badan, ia berjuang bukan untuk dirinya, melainkan untuk rakyat. Perjuangan itu dijalani melalui pengalaman mengelola organisasi, masyarakat, dan bangsa. Semoga bangsa ini bisa melahirkan pemimpin transformatif.***

salam hangat
M. Istijar nusantara

http://istijarok.blogspot.com


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.