RE: [kalam_salman] Soal Niat dan Ikhlas dalam Politik > focus cara kurangi/hilangkan korupsi.
Mas Amin, kenapa mesti terjebak prasangka ? justru dengan keengganan kita membicarakan masalah yang sensitif ini (dengan alasan pekewuh/primordial/feodalisme), sadar tidak sadar akan masih bisa menyuburkan atau tidak mengurangi tingkat korupsi di wakill wakil rakyat/Pemerintahan setelah tahun 2009
Tujuan posting dan pertanyaan saya adalah :
1. Adalah kesalahan pemilih/rakyat juga, jika menghasilkan wakil wakil yang kurang/tidak produktif sesuai dengan keinginan/ideologi/cita cita kita termasuk masih banyaknya
korupsi.
2. Pemilih agar memilih wakil wakil/partai yang dikenalnya baik/punya ide/program dan kemampuan melaksanakan yang relatif paling bersih/kurang beban untuk berbuat korupsi
dengan cara, memilih partai yang kampanyenya tidak membuat tanda tanya biayanya besar dari mana ? karena terdiri dari beberapa kemungkinan :
a. Setoran dari para caleg.
b. Dana dari Pengurus Pusat/Cabang partai tersebut.
c. Dana dari para sponsor.
yang diantara atau gabungan ketiganya (a.,b.,c) diatas, jika makin besar, maka tingkat keikhlasannya akan makin kecil (berbanding terbalik antara pengeluaran biaya kampanye
dengan tingkat keikhlasan), maka akan mengharapkan dari proyek proyek yang akan diperoleh kan ? atau apalagi selain itu yang tidak merupakan beban untuk korupsi supaya
tidak rugi ? siapa yang mau rugi besar ? kalau rugi/pengeluaran kecil sih tidak masalah
Salam,
Zaenal
At 15:08 16/10/2008, Aminuddin wrote:
Mas Aza, kayaknya kurang menarik mengikuti alur pertanyaan Mas Aza, sebab kita hanya akan terjebak pada hal2 yg spekulatif & penuh prasangka. Sulit bagi kita untuk belajar dari implikasi pertanyaan tsb.
Namun demikiian, topik dasar yg dikemukakan Mas Aza, yaitu kampanye & dana-nya, adalah hal yg sangat menarik & strategis.
Pertama,
Soal dana kampanye, sudah jamak bahwa semua partai besar & calon terbaik (entah legislatif atau ekekutif) membutuhkan dana yang besar. Rasanya bangsa ini juga perlu belajar dari pengalaman partai besar di negara maju (spt Amerika) ttg bgmana mereka mendapatkan & engelola dana kampanye yg sedemikian besar. Termasuk di dalamnya mengelola deal2 tertentu akibat pemberian dana tersebut.
Mungkin sahabat2 di milis ini bisa sharing.
Kedua, ibarat bisnis, kampanye adalah spt iklan. Produk yg jeleek biasanya membutuhkan dan usaha yg besar untuk mengiklankan diri & memastikan konsumen tertarik dan akhirnya membeli. Saya amati, belum banyak partai yg secara serius membuat & menawarkaan ‘produk’ yg bagus kepada masyarakat. Mereka terlalu fokus pada kampanye (baca: pasang iklan) & membujuk konsumen tanpa ada produk yang menarik & beda dgn yg lain.
Wajar saja aktivitas spt ini akan butuh dana yg besar.
Belajar dr kasus bisnis, banyak perusahaan dgn belanja iklan minim, namun mampu dikenal & diminati konsumennya.
Adakah partai yg spt itu?
Salam,
Aminuddin
From: Achmad Zaenal Abidin
Sent: 16 October 2008 14:09
To: kalam_salman@yahoogroups.com
Cc: AlumniMuslimITB@yahoogroups.com
Subject: RE: [kalam_salman] Soal Niat dan Ikhlas dalam Politik
Benar mas Amin, memang keikhlasan yang sebenarnya yang tahu hanya pribadi dan allah.
Tetapi maksud saya jangan sampai terjadi pembohongan publik, karena kita harus berani jujur dengan diri sendiri begitu juga dengan bangsanya.
Selama bangsa ini dibangun dengan kejujuran insyallah akan makmur, tetapi jika negara ini dibangun dengan kebohongan niscaya negara tidak kan maju maju karena tidak berkah.
Saya benar benar ingin share pendapat, dengan pengeluaran yang begitu besar akan memperoleh pengharapan pengembalian dari mana ?
Logikanya sederhana saja, jika penghasilan misalnya 20 juta sebulan, apakah akan ikhlas dengan mengeluarkan 500 juta setahun misalnya ? sisanya mau diharapkan dari mana pengembaliannya?
Islam dan ikhlas tidak ajarkan ummatnya untuk bunuh diri kan ?
At 13:58 16/10/2008, Aminuddin wrote:
Mas Aza, rasanya kurang etis jika kita mempertanyakan keikhlasan orang lain. Sebab ikhlas adalah hubungan pribadi seseorang dengan Allah.
Menurut saya, dlm konteks pertanyaan Mas Aza, lebih baik kita lihat dari sejauh mana kemaslahatan yg ditimbulkan dari gerakan/aksi tersebut,termasuk didalamnya implikasi asal/sumber dananya.
Selama secara keseluruhan & jangka panjang dari aksi tersebut bermanfaat bagi masyarakat, kita perlu kasih apresiasi yg besar.
Bahkan tidak ada salahnya jika kita belajar dari mereka.
Bukankah kita diajarkan u/ berlomba2 berbuat kebaikan?
Salam,
Aminuddin
From: Achmad Zaenal Abidin
Sent: 16 October 2008 13:21
To: kalam_salman@yahoogroups.com
Cc: AlumniMuslimITB@yahoogroups.com
Subject: RE: [kalam_salman] Soal Niat dan Ikhlas dalam Politik
Saya sependapat dengan Mas Aminuddin bahwa definisi ikhlas adalah menempatkan harapan ke Allah lebih tinggi/utama dibandingkan harapan ke umat manusia. Artinya harapan ke umat manusia, selama tidak lebih tinggi atau mengalahkan harapan ke Allah, berarti sudah ikhlas.
Namun ada prasasyat tambahan untuk ikhlas yaitu jumlah biaya yang dikeluarkan haruslah lebih kecil atau tertanggungkan dengan mudah dari penghasilan yang telah/akan diperolehnya.
Jika untuk mengeluarkan biaya besar persentasinya bahkan lebih besar dari penghasilannya sampai hutang kesana kemari, maka menurut saya keikhlasannya telah diragukan.
Makanya masih timbul pertanyaan, jika yang dikeluarkan besar sekali, maka Gerindra, Hanura, PDIP, PAN dan Demokrat (termasuk mudik gratis) akan mengharapkan dari mana sebagai pengembalian biaya kampanyenya yang begitu gencar ? tolong kasih pencerahan bagi yang tahu, karena benar benar penasaran dan bingung.
Jika harapannya dari proyek proyek yang akan diperoleh kelak, kan sudah banyak ketangkep KPK baik DPR maupun pelaku usahanya.
Apakah ada pintu lain lagi selain proyek yang akan diperoleh?
Salam,
Zaenal
At 14:03 17/10/2008, aminuddin wrote:
Kalimat Mas Kholil bahwa “Soal niat dan keikhlasan di dalam berpolitik, memang urusan yang amat sangat pelik sekali.”
Adalah benar. Dan kelihatannya juga bukan hanya urusan politik.
Apakah ini juga berlaku di bisnis?
Misal, seorang pengusaha yang menyediakan
Gaji yang bagus
Tunjangan yang memuaskan
Fasilitas kerja yang mentereng
Dengan harapan agar: Karyawannya bisa puas, loyal & berkinerja tinggi.
Setahu saya hampir 100% penguasaha punya motif seperti ini.
Apakah berarti niatnya kurang ikhlas?
Demikian juga kegiatan CSR, yang juga ada tambahan harapan agar masyarakat sekitar MENDUKUNG kegiatan perusahaan yang memberikan CSR.
Apakah ini juga mengurangi nilai ikhlas?
Atau di bidang profesi:
Jika seorang karyawan bekerja dengan sebaik-baiknya dengan tambahan harapan agar :
Gajinya naik
Karier naik
Apakah ini juga mengurangi nilai ikhlas?
Menurut saya, definisi ikhlas adalah menempatkan harapan ke Allah lebih tinggi/utama dibandingkan harapan ke umat manusia. Artinya harapan ke umat manusia, selama tidak lebih tinggi atau mengalahkan harapan ke Allah, berarti sudah ikhlas.
Nilai ikhlas akan hilang, jika harapan ke umat manusia mengalahkan harapan ke Allah.
Regards,
AMN
From: kalam_salman@yahoogroups.com [ mailto:kalam_salman@yahoogroups.com] On Behalf Of Fathi Nashrullah
Sent: Wednesday, October 15, 2008 9:20 PM
To: kalam_salman@yahoogroups.com
Subject: Re: [kalam_salman] Soal Niat dan Ikhlas dalam Politik
Benar mas Khalil. Sebagai partai politik, apapun yang kita lakukan selalu saja dikaitkan dengan partai kita. Makanya, dengan mulainya masa kampanye yang super lama dari masa pencoblosan, semakin mempersulit kita kalau mau bikin acara seperti baksos. Kalau bikin acara seperti itu, pasti dibilang orang “wah, kampanye nih..”.
Tapi benar juga nasihat-nasihat para ustadz. Luruskanlah niat kalian. Ikhlaskanlah niat, hanya karena Allah. Mau orang nyoblos partai kita atau enggak, yang penting kita beramal. Urusan Allahlah yang menggerakkan hati mereka mau pilih partai mana. Bukan urusan kita lagi. Yang penting, tugas kita adalah melayani mereka dengan sepenuh hati sebaik mungkin.
Kalau kita beramal hanya karena mengharapkan mereka mencoblos partai kita, alangkah kecilnya harapan yang kita inginkan. Padahal keridhaan Allah jauh melebihi segala-galanya. Apalagi kalau cuma sekedar menang pemilu. Na’udzubillah..
Fathi Nashrullah
— Pada Kam, 16/10/08, Munawar Kholil menulis:
Dari: Munawar Kholil
Topik: [kalam_salman] Soal Niat dan Ikhlas dalam Politik
Kepada: “Milis KG17″ , kalam_salman@yahoogroups.com
Tanggal: Kamis, 16 Oktober, 2008, 8:54 AM
Soal niat dan keikhlasan di dalam berpolitik, memang urusan yang amat sangat pelik sekali.
Tatkala seorang muslim yang kebetulan menjadi caleg berkunjung ke sana kemari, silaturahmi, atau bahkan mungkin bersedekah kepada para konstituen miskin, bisakah kita anggap dia beramal dengan ikhlas lillahi ta’ala. Bukankah ada niat di dalam dirinya agar dia menjadi dikenal dan dipilih?
Begitu pula saat seorang kader partai politik mengeluarkan uang bersama-sama untuk melakukan bakti sosial, bisakah bakti sosial itu dianggap ikhlas lillahi ta’ala? Bukankah dalam kerja bakti itu mereka menggunakan seragam partai agar konstituen mengenal partai mereka? Tidak bisakah itu dianggap sebagai niat lain selain untuk mengabdi kepada Allah?
Bila kita belum mampu berkompromi dengan hati kita sendiri untuk menjawab pertanyaan-pertanya an di atas, rasanya menjadi politisi itu memang sebuah beban. Bahkan bisa dikatakan bencana, karena amal-amal yang dilakukan terancam sia-sia karena tidak ikhlas untuk Allah ta’ala. Wallahu a’lam bish-showab.
Munawar Kholil
