Re: [indonesia] Re: Mengapa harus jual KS ?
At 15:17 01/05/2008, yorga effendi wrote:
Yang menarik ternyata pabrik pertama laksmi mittal didirikan di surabaya 1976. atau lebih muda dari KS sendiri yang didirikan 1970 (cek om wiki) tapi kok kalah jauuuuuuh….
deposit bijih besi di indonesia itu melimpah. tersebar dari sabang sampai daerah sulawesi (info dari teman di Antam).
Kriteria melimpah itu dengan kadar berapa %? sedangkan syarat untuk bisa doiolah KS kadarnya berapa %?
Tapi tahukah saudara2, ternyata selama ini bijih besi bahan baku bagi KS di impor!!!.
ADa yang bisa kasih pencerahan mengapa selama ini KS import ?
baru belakangan ini saja saat terjadi defisit bahan baku baja tahun 2005-an (pas Cina lagi gede2an bangun) KS mulai melirik bahan baku lokal.
Banyak ngak sih akhli besi baja diantara para Insinyur ITB ? metallurgi atau mesin ?
Salam,
Zaenal
karena industri material dasar seperti baja adalah kunci kemajuan teknologi. tanpa itu insinyur2 itb cuma jadi “tukang jahit” karena semua bahan baku dibeli dari luar untuk dirakit disini. [][]semoga mittal ga jadi beli KS Antam atau industri strategis lainnya.
—– Original Message —-
From: ibnu utama
To: indonesia@nextbetter.net
Sent: Tuesday, April 29, 2008 12:34:55 PM
Subject: [indonesia] Re: Mengapa harus jual KS ?
Nimbrung ya,
Perspektif dalam meninjau KS dan Mittal haruslah dalam kerangka lingkungan industri dunia saat ini yang bersifat kapitalistik. Mittal itu adalah Singa Besar, dan KS itu adalah Kucing Rumahan.
Posisi Mittal adalah posisi strategis yang dapat mengunci KS dari berbagai sisi, baik supply bahan baku, pasar, maupun sumber daya manusia. Dengan menggandeng Antam, berarti Mittal dapat mengunci KS dari sisi supply bahan baku. Dan bisa jadi manuver-manuver bisnis lain yang dapat mengunci KS.
Yang realistis adalah harus kita terima Mittal, karena biar bagaimanapun KS butuh Mittal dari sisi finansial dan pasar. Hanya kemudian harus dibuatkan regulasi industri strategis seperti KS bahwa investasi asing tidak akan melebihi 50% atau angka yang lain yang lebih realistis.
Masalahnya kemudian adalah kemampuan bermitra KS terhadap Mittal. Bisakah manajemen KS mendapat manfaat optimal dari masuknya Mittal ke KS.
Tidak ada cara lain, kalau yang ekstrim ya…perekonomian kita tutup dari pengaruh luar, seperti zaman kaisar Jepang dahulu kala.
Salam,
Ibnu Utama
TI 91
— On Tue, 4/29/08, Supardi Zainal wrote:
> From: Supardi Zainal
> Subject: [indonesia] Re: Mengapa harus jual KS ?
> To: indonesia@nextbetter.net
> Date: Tuesday, April 29, 2008, 11:06 AM
> Industri Logam dunia sekarang ini lagi buming. Sayang kalau
> saham KS dijual. Jika mau meningkatkan kapasitas, mengapa
> harus menggandeng Mittal? Kalau mau meningkatkan supply
> bahan baku kenapa Mittal mau menggaet ANTAM? Jika demand
> domestik sampai 7 Juta tpy tapi produksi KS hanya 2,5 Juta
> tpy maka domestic market terbuka lebar. Ini peluang yang
> sangat besar.
>
> Pertanyaan saya :
> 1.Darimana supply bahan baku untuk KS ? Apakah biji besi
> Indonesia cukup potensial
> untuk memenuhi kebutuhan KS?
> Jika deposit biji besi Indonesia cukup untuk memenuhi
> kebutuhan KS sampai kapasitas
> 7 juta tpy maka sebaiknya diolah sendiri oleh ANTAM dan
> KS agar Added Value bisa
> dinikmati 100 % oleh bangsa ini
> Jika depositnya kurang, cari melalui import. Saya yakin
> KS bisa cari. Sekarang yang
> sedang mengamankan supply bahan baku untuk negerinya
> adalah China dan India.
> Industri Pertambangan yang sedang gencar memperluas
> sayapnya untuk mengamankan
> supply misalnya Rio Tinto bersama China mengakuisisi BHP
> Australia. jadi hati2. Mittal
> sebenarnya mau mengamankan supply untuk siapa?
> 2.Jika KS akan meningkatkan kapasitas produksi, apa
> kendalanya? Modal? Kalau SDM,
> yakinlah orang Indonesia mampu. Proses? Saran saya ganti
> saja bahan reduktornya
> yang sekarang pakai Gas diganti dengan Kokas (Karbon)
> dari Batubara dengan
> membuat Coke Oven karena hasil sampingnya (Coal Tar
> Pitch) sangat diharapkan untuk
> supply ke Pabrik Aluminium Asahan, harganya juga mahal
> sekitar 450 USD/ton, .
> Kokasnya bisa disupply ke Pabrik Aluminium dan Pabrik2
> Peleburan Besi yang lain,
> harganya juga hahal sekitar 400 USD/ton, jadi sekalian
> meningkatkan added value
> Batubara.
> Modal? Katanya bank2 di Indonesia sedang banyak uang
> tidur, bingung
> menyalurkannya. Kalau ANTAM yang beli saham KS baru
> cocok.
>
> Jadi kalau KS menolak menjual saham ke Mittal saya pikir
> baguslah
>
> — On Mon, 28/4/08, Harlizon MBAu
> wrote:
>
> From: Harlizon MBAu
> Subject: [indonesia] Re: Apa sebenarnya yang diperlukan KS
> ? was Re: Heboh KS: Senyum manis Fahmi…
> To: indonesia@nextbetter.net
> Cc: psyw2000@yahoo.com
> Date: Monday, 28 April, 2008, 11:54 PM
>
>
> Wah… Mana ngerti aku Mas… Tanyain ke KS dong…!
> Yang saya tahu, setiap yang berbau pembangunan fisik dan
> teknologi pasti menggunakan besi atau baja.
> Jadi jika masih ada pembangunan fisik dan teknologi akan
> “SELALU” tergantung (diperes) jika Mittal jadi
> mbeli…
> Apalagi dia minta macam-macam yang lain sepagai supporting
> industri bajanya seperti dalam paragraph artikel email yang
> Mas kirimkan sebelumnya:
>
> “Dalam pertemuan itu, menurut Fahmi Idris, Lakshmi
> menyampaikan tiga opsi kepada Presiden SBY. Pertama, Mittal
> akan mengembangkan sendiri usaha pertambangan yang berkaitan
> dengan industri baja. Kedua, Mittal menawarkan diri menjadi
> mitra strategis
> bagi KS. Ketiga, Mittal akan mendirikan perusahaan
> patungan bersama KS. Selain menggandeng BUMN baja itu,
> Mittal juga berniat menjalin kerja sama dengan PT Aneka
> Tambang Tbk (Antam) untuk memasok bahan baku. Presiden SBY
> kata Fahmi Idris, menanggapi positif semua opsi yang
> diajukan Mittal.”
> http://www.rusdimathari.wordpress.com
>
> Hebat kan…! Mittal yang mengajukan opsi ke SBY
> (mudah-mudahan ini cuma bahasanya si pengarang artikel
> saja), bukannya SBY yang menyajukan opsi ke Mittal.
>
> Mas kan nga minta macam-macam yang lain to…???
>
> Apa suratnya jadi dikirim ke Meneg BUMN???
> Jadi di follow
> up nga???
>
> Salam Z
>
>
>
> 2008/4/26 Achmad Zaenal Abidin
> :
>
>
> Harlizon dan Temans,
>
> Sebenarnya ada latar belakang apa sehingga PT. KS harus
> dijual sebagian sahamnya ? apakah murni ingin meningkatkan
> kapasitas produksinya dengan 7-8 juta ton/tahun ?
> Apakah benar selama ini baja yang diimport belum diproduksi
> di KS ? sehingga perlu nambah investasi untuk sebagai
> substitusi baja import ?
> Apakah dengan penambahan kapasitas produksi KS, industri
> Nasional benar benar akan bisa menyerapnya ? atau mesti
> diexport sebagian ?
>
> Salam,
> Zaenal
>
> At 23:23 25/04/2008, Harlizon MBAu wrote:
>
>
> Bener kan Mas…
>
> Senyum manis Fahmi itu lho…
>
>
> http://www.gatra.com/artikel.php?pil=23&id=114147
>
> Tekad Baja Menolak Sang Raja
>
> Keinginan Lakshmi Mittal masuk ke Krakatau Steel mengundang
> reaksi negatif dari karyawan hingga komisaris. Pekerja
> Krakatau tak sudi menjalin kerja sama dengan Mittal.
> “Kami meminta komisaris dan direksi memperjuangan
> privatisasi lewat IPO. Itu harga mati,” kata Budi
> Santoso, Ketua Umum Serikat Karyawan Krakatau Steel.
>
> http://www.gatra.com/images/gambar/239/18.jpg
>
> Sepuluh tahun lalu, Mittal yang terkenal ke seantero dunia
> setelah membeli pabrik baja terbesar di Eropa, Arcelor,
> pada 2006 sesungguhnya hampir saja bisa mempersunting
> Krakatau. Ketika itu, lewat bendera
> Ispat International, Mittal meneken nota kesepahaman (MoU)
> dengan Menteri Negara BUMN, Tanri Abeng. Mittal sepakat
> membeli 49% saham Krakatau.
>
> Keinginan Mittal itu gagal setelah manajemen Krakatau
> melakukan perlawanan. Manajemen merasa tidak diajak
> berrembuk dan tidak sreg dengan cara Menteri BUMN
> menggandeng Mittal. Skenario Tanri melego Krakatau pun
> buyar setelah anggota DPR-RI ikut menentang.
>
> Untuk sementara, upaya Mittal meminang Krakatau gagal.
> Namun pengusaha yang kini menetap di Inggris itu tidak
> patah hati. Sejak kegagalan itu, ia tetap melakukan
> sejumlah langkah untuk mengambil hati sang pujaan dan
> orangtuanya. Pendekatan terus dilakukan, baik kepada
> manajemen Krakatau maupun Menteri BUMN, orangtua Krakatau.
> Di masa Presiden Megawati Soekarnoputri, Mittal mencoba
> masuk ke Krakatau, tapi gagal.
>
> Upaya itu terus ia lanjutkan di masa Presiden Susilo
> Bambang Yudhoyono. Mittal mengirim surat ke Menteri BUMN,
> Sugiharto. Tujuannya,
> ingin bertemu dengan Pak Menteri untuk membicarakan
> keinginannya masuk ke Krakatau. Oleh Sugiharto, surat itu
> diteruskan ke manajemen Krakatau untuk mendapat
> pertimbangan. Hasilnya, lagi-lagi Mittal belum bertemu
> jodoh.
>
> Rencana penjualan Krakatau terakhir dibahas pada akhir
> Maret lalu dalam rapat dengar pendapat antara manajemen
> Krakatau dan Komisi XI DPR. Dalam rapat itu, suara lebih
> banyak mendukung IPO. Sebagian yang lain lebih condong pada
> strategic sale. Toh, rapat itu belum memutuskan pola yang
> akan dipilih.
>
> Yang pro-IPO antara lain Dradjad Wibowo. Anggota dewan dari
> Partai Amanat Nasional itu menilai, Krakatau sebaiknya
> dikembangkan oleh bangsa sendiri. Dana pengembangan
> Krakatau, selain dari IPO, juga bisa didapat dari lembaga
> keuangan lainnya.
>
> Sedangkan yang pro-strategic sale antara lain Habil Marati,
> anggota Komisi XI DPR dari Partai Persatuan Pembangunan.
> “Namun tidak harus Mittal, ya,” katanya. Pola
> strategic sale ini pada prinsipnya harus mencari pembeli
> yang punya kemampuan mengembangkan usaha, punya teknologi.
> “Sedangkan Mittal kemungkinan hanya untuk memperkuat
> pasarnya. Mittal bukanlah tipe pengusaha baja yang
> mengembangkan teknologi,” ujarnya. Karena itu,
> prosesnya harus lewat tender terbuka.
>
> Menteri Perindustrian Fahmi Idris menyatakan, kemitraan
> strategis dengan Mittal akan meningkatkan produksi Krakatau
> menjadi 8 juta hingga 10 juta ton pada 2011. Selama 30 tahun
> –sejak berdiri– kinerja Krakatau Steel tidak optimal. BUMN
> baja ini hanya mampu menghasilkan 2,5 juta ton baja. Itu tak
> sebanding dengan kebutuhan baja yang mencapai 7 juta ton per
> tahun. Akibatnya, Indonesia sangat bergantung pada baja
> impor. “Yang kita butuhkan adalah peningkatan produksi
> sehingga menguasai pasar, efisiensi, dan mememuhi kebutuhan
> nasional,” kata Fahmi.
>
> Fahmi mengambil contoh ketergantungan industri otomotif
> pada baja impor. “Padahal, kan
> besi dan pelat baja untuk kebutuhan otomotif itu captive
> market,” katanya. Pemerintah, kata Fahmi, berharap
> Arcelor Mittal, yang setiap tahun memproduksi 120 juta ton
> baja, bisa menggenjot produksi Krakatau Steel. Pernyataan
> Fahmi itu kemudian memunculkan dugaan bahwa dialah yang
> mengundang Mittal masuk ke Krakatau.
>
> Irwan Andri Atmanto, Syamsul Hidayat, dan Mukhlison S.
> Widodo
> [Laporan Utama, Gatra Nomor 24 Beredar Kamis, 24 April
> 2008]
> –
> Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah
> ilmu/teknologi serta
> kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan
> dunia dan akhirat.
