Perlu dibuat Database link demand supply atau sudah ada? was Re: [indonesia] Re: Impor impor impor

Temans,

Menurut saya, banyak import itu terjadi karena tidak sinerginya antara kebutuhan dan link pasar dengan penghasil dan link supplier/petani.
Sering terjadi petani banyak menanam produk hasil pertanian tertentu tetapi ketika banjir supplynya maka harga menjadi hancur contohnya cabe, cengkeh, jeruk dsb., sehingga ketika harga hancur lalu para petani menghancurkan sendiri pohon2 cabe dan cengkehnya.

Akhirnya, petani baru mau menanam jika sudah ada permintaan pasar, sementara kebutuhan mendadak yang belum tahu supply dari dalam negerinya dimana otomatis akan mencari di internet dan akhirnya import.

Jadi salah satu solusinya adalah kita harus bangun/punya database yang berisi data demand dan supply masing masing komoditas pertanian yang diberlakukan bekerjasama dengan departemen perdagangan dan pertanian dimana spesifikasi komoditas yang diperlukan juga kita cantumkan.

Dengan data tersebut, karena telah tahu pasarnya maka para petani atau termasuk kita yang berminat untuk terjun di agri bisnis dan mempunyai kompetensi dalam mekanisasi pertanian bisa bekerjasama denganĀ  petani untuk mulai menanam semua komoditas pertanian yang diperlukan termasuk garam yang pabrikasinya bisa teman2 kita design dan buat sendiri yang bagus.

Dengan database tersebut, kita bisa usulkan keseimbangan pasar dan supply dalam negeri sehingga harga tidak jatuh tetapi tidak perlu import lagi. :-)

Salam,
AZA

At 11:41 10/01/2008, witarto adi wrote:

Prasetyo Roem <konti@cbn.net.id> wrote:

IMPOR TEPUNG TAPIOKA (TEPUNG SINGKONG).
Minggu lalu kami melakukan audit energi di pabrik glukosa, sorbitol di
Gempol Pandaan Surabaya.
Alangkah herannya kami mendapat info bahwa pabrik ini melakukan impor tepung tapioka (starch) dalam jumlah cukup besar. Mereka juga sudah beli tepung tapioka dari Jawa Timur, Jateng dan Lampung, tapi kapasitas pabrik masih terlalu besar, sehingga masih diperlukan impor starch.
Tahun kemarin kami mendapat info bahwa pabrik chlorin di Anyer melakukan impor garam 125.000 ton/tahun.
Kenapakah kita masih senang impor? Apakah kita sudah sedemikian malasnya untuk kerja?
Setahu saya, beberapa produk pertanian kita masih impor:
1. Beras.
2. Kedele.
3. Jagung.
4. Bawang Putih.
5. Tepung singkong.
6. Garam.
7. apa lagi ya ???
Kalau kita jalan2 kemana saja di bumi Indonesia ini, kita menjumpai banyak lahan kosong dibiarkan nganggur. Di sepanjang jalan tol ke Bandung, sepanjang jalan jaliur pantura, jalur selatan, jalur pantai selatan, masih banyak lahan dibiarkan ditumbuhi ilalang. Apalah susahnya menanam singkong?
Tanpa perawatan. Tidak perlu lulusan IPB untuk bisa menanam singkong.
Andaikan saja semua Gubernur, Bupati, Camat, Lurah, Ketua RT diberi
kesadaran untuk mengajak warganya agar menanam apa saja tanaman berguna (cabe, jarak pagar/jatropa, singkong, turi dll) di lahan kosong, mungkin kita bisa stop impor barang2 komoditi seperti ini. Tanah kita tanah subur, apa saja bisa ditanam. Kalau jenis tanaman bisa dikoordinasikan oleh pemerintah, tentu saja akan jauh lebih baik. Rasanya dulu Belanda sudah memberi contoh yang baik untuk mengkoordinasikan jenis2 tanaman buah untuk Medan dan sekitarnya. Di Medan, sepanjang tahun kita selalu bisa mendapatkan buah dengan jenis yang ber-ganti2.

Salam,
Prasetyo Roem.
———————————————
Pikiran Rakyat, Rabu, 11 September 2002

Produsen Singkong, tapi Impor Tapioka
JAKARTA – Meski Indonesia produsen ubi kayu (singkong) keempat dunia setelah Nigeria, Brasil, dan Thailand, kebutuhan tapioka (tepung singkong) masih harus diimpor. Impor tapioka tahun 2000 mencapai 205.988 ton senilai ASD 32,35 juta, sedangkan impor tahun 2001 turun menjadi 66.593 ton senilai ASD 10,04 juta. Hal itu akibat pola tanam pada musim penghujan yaitu Oktober-Januari dengan puncaknya pada bulan November. Maka, panen raya secara nasional terjadi pada bulan Juli-Oktober dengan puncaknya pada bulan Agustus. Menurut Dirjen Bina Produksi Tanaman Pangan, Deptan, M. Jafar Hafsah saat mencanangkan Lampung sebagai Jendela Agrobisnis Ubi Kayu,
produksi singkong tahun 2001 tercatat 17,1 juta ton, dimana 85% diserap industri dan konsumsi dalam negeri dan 15% diekspor dalam bentuk gaplek, chip, dan tapioka. (A-88)***

Rekans Indo-Nextbetters, ysh

Saya coba menganalisis naskah UU 17 2007, dengan memasukkan kata kunci
jati diri, yang menurut saya berkaitan erat dengan produksi dalam negeri.


Satu Tanggapan to “Perlu dibuat Database link demand supply atau sudah ada? was Re: [indonesia] Re: Impor impor impor”

  1. Pak, saya sedang membuat tesis yang sejalan dengan tulisan Bapak. Bagaimana membuat kolaborasi supply-demand komoditas pertanian di Indonesia dengan bantuan IT.
    Kalau sistemnya sih sudah ada Pak, sepertinya dibuat oleh Deptan. Cek disini: http://agribisnis.deptan.go.id/singosari/index.php?isi=Komoditi/index
    Tapi menurut saya navigasinya masih kurang bagus dan jarang (kl tidak mau dibilang tidak pernah) diisi datanya. Dan itu cuman sekedar berbagi info supply-demand antar daerah, belum sampai membuat perencanaan, forecasting yang dilakukan secara kolaboratif, sehingga tidak terjadi lagi over supply di suatu daerah dan supply yg kurang di daerah yg lain.

    Kalau berkenan, saya mohon bisa berdiskusi dengan Bapak.
    Tolong hubungi saya di: angga_indra@yahoo.com

    Terima Kasih Pak.

Tinggalkan Balasan