PEMERINTAH ” MALING TERIAK MALING ! ” PADAHAL PEMERINTAH SENDIRI YG ACUH DGN HAK PATEN NEGARA KITA !
@ Indonesia itu, sebelah mananya Bali yah… ? @
Hak Intelektual dan patenisme.
Seberapa besar seeh kita, seniman, budayawan, dan terutama perwakilannya di pemerintahan memperhatikan khasanah budaya Indonesia untuk dipatenkan di tingkat dunia?. Wah… gw nggak tahu juga (dan sering tidak perduli), tapi rasanya kita sangat kurang. Dan sudah tentu pula warga budaya itu mengeluh dan pedih juga karena di negerinya sendiri, karya cipta mereka kurang mendapatkan penghargaan. Bertahan dengan darah senimannya, hanya segelintir yang bisa hidup layak. Masyarakat kita jauh lebih mudah membeli barang konsumtif lainnya dari pada kemampuan menikmati budaya sendiri yang konon katanya adiluhung !.(eh ini tidak relevan dibandingkan. Bandingkan dong dengan pelanggaran hak cipta).Bicara soal pelanggaran hak cipta?. hak cipta?, musik, lagu, syair, pembajakan buku, komputer, naskah?… ah.. nggak ah… nanti dibilang maling teriak maling….(malahan blogs gw tulisannya pernah dibajak tmn gw sendiri ! kurang asem ! dan gak creative loe !)
@ Setujukah dengan Klaim Hak Cipta Budaya oleh Negeri Serumpun? @
Tentu saja tidak !, mana ada yang rela seeh punya sendiri dianggap punya orang lain. Tapi, tentu juga mereka juga memiliki budaya sendiri lah.. Tapi mereka boleh jadi juga memang memiliki budaya yang “relatif miskin” miskin dibanding dengan khasanah budaya serumpun. Karena itu, mereka coba merebut/mengambil dari Indonesia. Itu juga karena mereka memang lebih pandai menjual dan lebih konsisten dari pemilik aslinya.
Di sisi berbeda,gw percaya, kompetensi asli tidak akan hilang.Hanya, bagaimana ya… kalau mereka ambil dan patenkan karya anak bangsa Indonesia. Terus satu kali bangsa kita sudah lebih dewasa dan maju, memperkenalkan karya cipta budaya sendiri…. eh… tau-taunya waktu mau dijual di Eropa, Jepang, atau Amerika… kita diadukan karena kita telah melanggar hak paten Malay !?. Terus kita diwajibkan membayar royalti sama saudara muda kita, Malay.Wah kalau skenario ini terjadi, benar-benar deh kita dirugikan karena itu juga artinya Malay sebagai mahluk hidup juga sebenarnya mahluk-mahluk serakah. Saya kira batas tertentu dan etika mereka juga akan malu. Mungkin sebenarnya mereka (seniman dan budayawan Malay) lebih malu dari kita…..Jadi.. tentu kita bisa berdiplomasi dengan arif pula. Nggak usahlah saling “mengkafirkan”.Namun, ya.. semogalah di dunia ini lebih aman dan Malay juga sewajarnya malu dengan cara-cara yang semestinya juga bisa lebih etis dalam akulturasi budaya ….
gw tidak menunjukkan keberpihakan, namun ingin mengingatkan anak bangsa sendiri bahwa lebih rajin mematenkan karya bangsa. Maklumlah gw tahu pula dari ragam berita bahwa banyak produk budaya Indonesia malah dipatenkan oleh bangsa yang kini lebih maju secara teknologi dari umumnya (relatif) dari bangsa sendiri…sediiiihhhh nya gwww bookkkk……………..
PS : BTW hari ini iseng2 gw buat sepenggal puisi nich ttg negara kita..
@ KOKTIL KEBUDAYAAN KITA? @
jawabnya adalah sex, drugs en dangdut!
ini kenyataan, ini realitas!
kehidupan gesek-gesekan bebas ganas
aktif terjadi melilit rayuan frustrasi
sirnanya cinta terbelit kemiskinan
jual diri, jual nama, jual tampang
hanya untuk selembar kertas bernama uang!
oya?!
puisi cerita tentang uang, sex dan cinta
manusia punya alasan alamiah, nafsu
yang suka melampaui batas-batas hayalan
ujung-ujungnya pasti menuai kekecewaan
keraguan dan putus asa
salah siapa jika semua itu jadi bencana?
penyakit menyandu hayalan semu
tipikal makhluk berkaki dua berotak beku
kurang piknik namanya?
atau overdosis rasa ketidakpercayaan?
ketika kebudayaan kita diseruduk politik globalisasi
maka rakusnya korupsi tingkat tinggi makin sakti!
di bawah sana orang ikut-ikutan pesta orgienya gongli
liuer, liar, wild, ganas dan nafunya bertanduk!
lengkaplah sudah jamannya “anarki-korupsi”
siapa yang tak ikut main, ditendang! mental!
kebudayaan kita sekarang adalah koktil keganasan
akibat tindakan jahat yang tak pernah dibuktikan
padahal
bukti di depan mata batin kita
lengkap dengan laporan ilmiah berjudul “empiris”
apalagi yang kurang boookk?!
uang! doku, dokat, duit
bisa membeli semua yang terjepit
itulah semboyannya
sex, drugs en dangdut
adalah koktil kebudayaan kita
NB : sudah dulu ya perut gw kerucutan…gw laparrr bookk bgt dan mau makan ” Sop sumsum sapi kacang hijau “…asli uenak banget loh iki…. hehehe…medeni eneng tulang dipiring…whahwhahwha…
BEsT ReGardS
CindoYY
Ketika orang Indonesia makin berkurang menggunakan batik. atau jarang nonton wayang atau reoq, maka pasar batik, reog dan wayang dan sebagainya akan berkurang.
Ketika pasar berkurang, identik dengan penghasilan berkurang dari hasil budaya tersebut, maka gairah atau keinginan mematenkan berkurang, apalagi advokasi dan sosialisasi tentang adanya hukum patent sendiri sangat kurang ke masyarakat terutama ke kalangan yang menghasilkan budaya tersebut, walhasil wis duite ora ono tur ora ngerti ugo.
Yang bijaksana adalah telunjuk menunjuk orang lain, sedangkan ibu jari menunjuk dirinya sendiri apakah telah banyak menghargai budaya dan karya lokal/sendiri ?
Pemerintah adalah identik juga terdiri dari orang/masyarakat mayoritas Indonesia yang masih kurang menghargai budaya dan karya lokal termasuk kita sendiri.
Makanya mulailah dengan diri sendiri, keluarga, teman/sahabat kemudian lingkungan yang lebih luas dengan UTAMAKAN KARYA BANGSA SENDIRI AGAR MAKMUR MANDIRI dan kurangi produk import yang makin mahal menghabiskan devisa negara.
http://tinyurl.com/hargai-karya-sendiri
http://tinyurl.com/indonesia-lebih-baik
Write a comment…


