MANFAAT vs MUDHOROT KAPITALISME was Fwd : [alumni_gamais_itb] jebakan candu konsumerisme
Rekans,
Saya baca artikel ini menarik, mohon direnungkan untuk perbaikan sistem perekonomian dan budaya Indonesia dari konsumerisme menjadi karyaisme (berlomba dalam karya).
Salam,
AZA
From: Hendra Messa <hdmessa@yahoo.com>
Date: Mon, 25 Feb 2008 21:19:51 -0800 (PST)
Subject: [alumni_gamais_itb] jebakan candu konsumerisme [reflection]Seorang buruh pabrik yang baru menerima slip gaji, saat membuka slip gaji nya, tanpa melihat berapa besar gajinya, karena sudah tahu, ia langsung saja mengambil pulpen dan mencoret2 di kertas itu, di bawah angka gajinya, ia menulis deretan angka2 di bawah nya, kemudian dikurangkan. Ia ingin tahu berapa sebenarnya sisa yang masih ia bisa terima, setelah membayar hutang2 nya. Setelah disisihkan uang untuk membeli kebutuhan hidup sehari2 nya , dihitung lagi masih tersisa berapa uang untuk membeli keperluan2 permintaan istri dan anak2 nya. Biasanya, belum habis bulan pun sudah habis lagi, sehingga ia terpaksa berhutang yg dibayar saat gajian bulan berikutnya.
Demikianlah cerita yg sering saya temui saat kerja di kawasan industri pulogadung, Jakarta dulu, khususnya pada buruh pabrik yg penghasilan nya pas pasan, sesuai UMR yg ditentukan .
Namun ternyata mereka yg bergaji besar pun mengalami hal yg sama, tambah besar gaji, tambah besar juga pengeluaran nya. Sisa penghasilan, akhirnya habis juga untuk membeli barang2 konsumsi yg bisa jadi sebenarnya tak begitu dibutuhkan nya, namun dibeli hanya karena dorongan keinginan yg tergiur oleh jebakan iklan.Betapa banyak orang2 bekerja dengan penghasilan yg secukupnya, tak sebanding dg keringat yg dikeluarkannya. Namun pada sisi lain kemudian ia terjebak konsumerisme banyak mengeluarkan uang membeli barang2 dan jasa yg tak begitu dibutuhkan.
Karena kondisi seperti itu, ia hidup bagaikan dikejar2 kebutuhan, bagaimana memenuhi kebutuhan sehari2 mengisi hidupnya sehari2, tak sempat lagi memikirkan masa depan, apakah lagi memikirkan hal2 yg tinggi seperti makna kehidupan.
Orang2 spt itu, bagaikan terjebak pada 2 sisi , pada satu sisi tenaga nya diperas, namun hanya mendapat imbal balik (gaji) yg tak sepantas dengan nilai produksi yg dihasilkan nya, dalam kaidah kapitalis, manusia tak lebih dari sekedar “komponen” produksi.
Pada sisi lain banyak orang terjebak pada budaya konsumerisme , ia jadi boros, banyak mengeluarkan penghasilan yg didapatnya dengan susah payah, untuk membeli barang dan jasa ( komoditi) yg sebenarnya tak begitu dibutuhkan, komoditi yg tak memberi nilai tambah signifikan untuk perbaikan taraf hidupnya.
Konsumerism dan pola hidup boros, akan lebih terlihat pada orang2 yg tergolong kaya.Dalam kaidah sosiologi agama, kekayaan adalah berfungsi sosial pula, dimana sebagian kekayaan akan bergulir kembali pada orang2 miskin dalam bentuk sumbangan atau investasi usaha. Namun karena uang nya banyak tersedot oleh konsumerisme, uang tersebut bukan mengalir pada orang2 miskin, tapi pergi lagi pada pihak2 yg memiliki kapital lebih besar lagi, para pemilik modal di negara2 kaya.
Analogi proses yg sama terjadi pula, pada level negara, dimana negara2 miskin seperti Indonesia, dikeruk kekayaan alam nya dengan “bayaran” yg rendah, namun pada sisi lain, kita harus membeli mahal, barang2 dan jasa dari negara2 maju, seperti produk2 teknologi. Sehingga berlaku lah proses seperti lagu lama Rhoma Irama, “yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin”
Banyak orang yg bagaikan terjebak dalam lingkaran hanya sekedar memenuhi kebutuhan dasar hidupnya, bahkan sampai masa tuanya, masih hidup dalam kesulitan. Sungguh kasihan sekali mereka, karena hidup ini serasa kering karena nya. Kita semua, sering menganggapnya sebagai hal yg biasa, dan menerima memang sudah demikian nasib orang2 yg hidup di negeri berkembang seperti Indonesia
Namun bagi saya pribadi, hal tersebut terus menjadi pertanyaan yg tak terjawab, sejak belajar ilmu teknik industri sampai bertahun2 bekerja di sebuah kawasan industri, apakah memang sedemikian kering nya hidup ini ? , Padahal Tuhan menciptakan manusia, makhluk yg mulia hidup di dunia ini, dengan maksud yg mulia pula, namun betapa banyak orang yg hidup bagai dikejar kejar kebutuhan hidup yg pokok saja, sehingga tak sempat berpikir yg lebih tinggi lagi.
Sampai akhirnya saya pun mulai belajar ilmu sosiologi, mulai dari kaidah2 lama sosiologi spt karl marx sampai teori2 baru post modern dari Jean Baudrillard, yg bisa sedikit memberikan sedikit titik terang mengenai hal tsb.
Pada masa2 industrialisasi di Eropa 2 abad lampau Karl Marx menyampaikan tesisnya mengenai betapa telah terjadi ketidak adilan antara nilai kerja yg diberikan seorang pekerja dengan nilai keuntungan yg dihasilkan dari kerja tersebut ( produksi ) yg diraih oleh pemilik modal (kapitalis). Logika kapitalis bahwa keuntungan harus diraih sebesar mungkin dengan menekan biaya ( termasuk upah buruh ) serendah mungkin, telah melestarikan kaidah upah buruh rendah tersebut, khususnya di negara2 berkembang. Tapi di negara2 Eropa di mana teori tersebut berawal, saat ini kondisinya bahkan telah membaik, pekerja telah mendapat upah yg layak.
Pada jaman ini, Jean Baudrillard, sosiolog Perancis, mengungkapkan sebuah fenomena baru kehidupan modern, yaitu terbentuknya “masyarakat konsumsi”, dalam bukunya ; La Societe de consummatie ( masyarakat pembelanja )
Komunitas (masyarakat) konsumsi adalah masyarakat yang secara tak sadar telah menjadikan konsumsi sebagai pusat aktivitas kehidupan dengan hasrat yang kuat akan materi, selalu ingin berbelanja. Dalam masyarakat konsumsi persepsi terhadap barang (komoditi) telah berubah dari sekedar kebutuhan yang memiliki nilai tukar dan nilai guna ,berubah menjadi komoditas citra/gengsi, orang berbelanja selain karena ingin meraih kepuasan, tapi juga karena mengharapkan citra tersendiri karena telah memiliki barang tsb. Dengan demikian konsumsi, tidak dapat dipahami sebagai konsumsi nilai guna, tetapi terutama sebagai konsumsi citra / image.
Dalam masyarakat konsumen hubungan manusia ditransformasikan dalam hubungan objek yang dikontrol oleh pertanda atau citra. Perbedaan status dalam masyarakat dimaknai sebagai perbedaan konsumsi citra , sehingga kekayaan diukur dari tingkatan citra yang dikonsumsi. Mengkonsumsi objek tertentu menandakan kita berbeda atau dianggap sama dengan kelompok sosial tertentu, seorang yg membeli jam mewah Rolex status sosialnya lebih tinggi daripada mereka yg hanya bisa beli jam tangan murahan misalnya, tak peduli apakah ia membeli jam tersebut dari hasil korupsinya , jadi citra telah mengambil alih fungsi kontrol terhadap individu. Tingkat konsumsi telah menjadi sebuah semacam pertanda kelas priyayi masyarakat modern.
Orang2 yg ingin meningkat status kasta sosialnya, akhirnya berusaha segala cara untuk mengkonsumsi citra tersebut, membeli barang2 mewah, produk2 yg bermerek, walau dengan berhutang sekalipun. Institusi modern seperti bank akan sangat senang memberikan kredit konsumsi, daripada kredit usaha misalnya. Kebiasaan berhutang ( kredit ) dan sikap konsumerisme adalah turunan2 dari pola ekonomi kapitalis.
Disinilah jebakan itu berlaku pula, betapa konsumerisme akan memberikan warna pula terhadap tujuan hidup seorang manusia untuk meraih kemuliaan hidup dengan materi akan menenggelamkan nya dalam kubangan materialisme. Moralitas agama sebagai tuntunan bagaimana mencapai kemuliaan hidup telah dikesampingkan.
Karena tingkat kemulian seseorang , dinilai dari tingkat konsumsi nya, materi apa yg dikenakan nya ; jam tangan rolex, mobil jaguar, wisata keliling dunia adalah contoh simbol “orang yg mulia”, dalam kaidah masyarakat konsumsi.
Saat ini kita bisa melihat, betapa, pusat perbelanjaan , mall2, telah menjadi bagaikan pusat budaya, bagaikan “tempat ibadah”, betapa ingin nya orang pergi kesana, betapa seringnya orang pergi ke sana, walau hanya sekedar jalan2, betapa orang2 serasa tak lengkap hidupnya kalau tak pergi kesana. kebahagian pun di ukur dengan kepemilikan atas materi, orang yang paling royal dalam berbelanja dianggap anggota masyarakat yg hebat, “pemboros agung” bukanlah sebuah sebutan yg berkonotasi negative.
Konsumerisme adalah juga salah satu mata rantai pola masyarakat kapitalis, yg bertalian dg hedonisme dan individualism. Kapitalis dengan logika maksimasi profit nya, akan sangat senang sekali bilamana pusat2 produksi, menghasilkan barang2 yg selalu dibeli konsumen, apakah produk tersebut benar2 berguna atau tidak berguna, kapitalis tak mau tahu.
Bahkan saking canggihnya proses bisnis, ilmu marketing , advertising telah berkembang lebih jauh, bagaimana cara nya agar masyarakat membeli sebanyak mungkin produknya. Ilmu advertising dengan pendekatan psikologis, telah berusaha lebih jauh masuk ke dalam kejiwaan seorang manusia, agar selalu timbul keinginan untuk mendapatkan produk yg dihasilkan nya. Walau telah menggeser paradigma bahwa orang membeli sesuatu untuk memenuhi kebutuhan nya, menjadi membeli karena keinginan.
Dorongan karena kebutuhan akan berhenti saat kebutuhan nya terpenuhi, namun dorongan karena keinginan adalah tanpa batas. Permintaan tanpa batas, akan sangat menguntungkan bagi para produsen, karena produk ( materi & jasa ) yg dihasilkan nya selalu habis terbeli di pasaran. Bagi pemilik modal artinya ada jaminan pasar, bahwa produk yg dihasilkan akan selalu laku yg ujung2 nya ialah tingkat keuntungan makin tinggi.
Disinilah telah berubah logika lama karl Marx, karena fungsi produksi telah bergeser dari memenuhi kebutuhan, telah berubah menjadi lebih jauh bahwa produsen bisa mengarahkan / mendikte masyarakat pembeli mengenai apa yg mereka konsumsi.
Proses mendikte tersebut antara lain terlihat pada aktivitas semisal Advertising / promosi iklan. Bahkan telah berlangsung sejak seorang bayi lahir. Saat seorang bayi lahir, pada beberapa klinik sang bayi langsung diberi susu formula pada mulutnya, baru kemudian diserahkan pada ibunya untuk disusui. Anak2 dan remaja banyak menghabiskan waktunya menonton TV, dimana sebagian besar isi program nya adalah iklan2.
Pusat2 perbelanjaan adalah salah satu magnet besar, dimana promosi dan iklan begitu menyergap kita.
Telah terjadi juga pergeseran bahwa orang tak hanya membeli berdasar daya guna sebuah produk, tapi lebih pada citra/image/gengsi yg dibawa oleh produk tersebut. Secara esensi tak ada bedanya melihat waktu menggunakan arloji Seiko dibanding pakai jam tangan mewah Rolex misalnya, begitu pula menghilangkan haus dengan meminum secangkir kopi tubruk di pinggir jalan dengan secangkir kopi di café starbuck misalnya. Namun pembeli mau mengeluarkan uang lebih banyak, karena yg dicari ialah citra dari produk tersebut.Salah satu contoh dari bagaimana sebuah proses konsumsi yg sangat ekstrim dimana, keinginan untuk membeli suatu produk sudah tak bisa dikendalikan lagi, karena telah tertanam kuat pada alam bawah sadar. Keinginan merokok atau mengkonsumsi narkoba, adalah contohnya, sebenarnya secara fisik tubuhnya tak membutuhkan barang2 tersebut, tapi dorongan bawah sadar yg kuatlah yg membuat ia ketagihan dan selalu ingin menggunakan barang2 tsb. Sebagai contoh, bandar narkoba sebagai produsen, adalah sangat diuntungkan, karena produknya selalu dicari orang berapapun harga nya, secara bisnis sangat menguntungkan.
Mungkin contoh konsumsi narkoba adalah terlalu ekstrim, tapi sebenarnya hal yg sama namun dengan kadar yg jauh lebih rendah bisa terjadi pada konsumsi produk2 lain nya. Dimana rayuan konsumerisme, begitu telah merasuk ke dalam alam bawah sadar kita. Ilmu marketing dan advertisement, telah begitu majunya, sehingga bumbu2 ilmu psikologi telah begitu mewarnai iklan2 yg begitu menghanyutkan, namun tak disadari orang banyak, memang mereka tak perlu sadar,yg penting bagi produsen barang mereka laku.
Untuk menggambarkan betapa telah merasuknya iklan pada jiwa kita, penyair Sapardi Joko Darmono, ada membuat syair yg miris mengenai Iklan, yg bercerita mengenai sebuah keluarga yg sangat terpengaruh oleh iklan, sampai setengah mati, berikut ceritanya ;
Ia penggemar berat iklan. “Iklan itu sebenar-benar hiburan,” kata lelaki itu. “Siaran berita dan cerita itu sekedar selingan.” Ia tahan seharian di depan televise. Istrinya suka menyedikan kopi dan kadang-kadang kacang atau kentang goring untuk menemaninya mengunyah iklan.
Anak perempuannya suka menatapnya aneh jika ia menirukan lagu iklan Supermi, Kepalanya bergoyang-goyang dan matanya berbinar-binar. Anak lelaakinya sering memandangnya curiga jika ia tertawa melihat badut itu mengiklankan sepatu sandal, kakinya digerak-gerakkannya ke kanan-kiri. Dann istrinya suka tidak paham jika ia mendadak terbahak-bahak ketika menyaksikan iklan tentang kepedulian sosial itu, dua tangannya terkepal dann dihentak-hentakkannya.
Lelaki itu meninggal seminggu yang lalu; konon yang terakhir diucapkannya sebelum “Allahuakbar” adalah “Hidup Iklan!” Sejak itu istrinya gemar duduk di depan televise, bersama anak-anaknya, menebak-nebak iklan mana gerangan yang menurut dokter itu telah menyebabkannya begitu bersemangat sehingga jantungnya mendadak berhenti.
Baca selengkapnya ; http://hdmessa.wordpress.com/2008/02/25/jebakan-candu-konsumerisme/
__________________________________________________________

Tinggalkan Balasan