Industri Baja skala kecil/menengah sebagai solusi Harga bahan baku baja naik terus

Rekan Hilman,

Menurut saya, persoalannya adalah industri baja memerlukan modal besar/padat modal, sehingga tidak bisa hanya dipecahkan oleh para insinyur saja tetapi juga usahawan/industriawan.
Karena termasuk untuk survey biji besi dengan kandungan berapa persen saja juga cukup memakan biaya, belum lagi pabrik yang cocok dengan bahan baku biji besi kandungan tertentu yang mana kita masih suka bingung, apalagi berapa investasinya rasanya belum tahu termasuk teknologi dari mana kita juga masih belum tahu mana yang lebih kompetitif dan cocok dengan bahan baku biji besi dengan kandungan tertentu.

Solusinya menurut saya, mesti ada riset dari para insinyur logam atau mineral dan mesin/listrik/kimia yang bisa mengolah biji besi dengan kandungan berapa persen pun masih bisa diolah menjadi baja atau komponen besi lainnya yang masih bisa berguna bagi industri dalam negeri dengan membuat pabrik pabrik baja yang tidak perlu besar sehingga bisa  dibangun dimana saja mendekati tambah bijij besi dengan investasi tidak besar lalu Pemerintah membuat larangan export bagi biji besi tersebut seperti halnya pemerintah melarang  export kayu glondongan.

Logikanya, dulu batubara muda tidak laku dipasar domestik maupun ekspor, tetapi sekarang batubara mudapun laku keras karena teknologi PLTU dengan batubara muda telah dikembangkan.

Nah, semestinya industri besi baja juga begitu, dicari/dikembangkan teknologi pabrik baja skala kecil/menengah yang bisa memproduksi besi baja dengan bahan baku biji besi dengan kandungan berapa persen biji besi yang kecilpun masih bisa.

Salam,
AZA

At 20:02 11/01/2008, hilman wrote:

Bung AZA,

Saya mau nimbrung dikit nih tentang industry Baja. Wapres Kita  pernah
mengatakan bahwa Industri Baja sedang terpuruk, kualitasnya kalah jauh
dibandingkan India dan China. Hal ini disebakan karena salah urus dan salah
tempat (katanya). Kita ini memang lucu kata Wapres, Pt. Krakatau Steel ada
di Cilegon (Banten) padahal Batu bara dan bijih besi nya ada di Sumatera dan
di Kalimantan. China mengekspor Bajanya ke Indonesia (padahal biji besinya
dikirim dari Indonesia).
Jadi pabrik Baja seharusnya dibuat di Kalimantan dan di Sumatera selatan,
karena daerah ini memiliki bijih besi dan batu bara yang murah. Saat ini Pt.
KS masih memakai bahan bakar minyak dan bijih besi di Import dari Brazilia.
Seharusnya Pemerintah memberlakukan kebijakan atas ekspor bijih besi, sejauh
ini bijih besi diperlakukan mirip batu bara yang tak terkena pajak ekspor.
Tapi kebijakan ini mungkin diberlakukan setelah pabrik baja yang di
Kalimantan dan Sumatera selesai. Sekarang ini harga baja di dalam Negeri
sangat tinggi dan harga ber-ubah2 dalam setiap minggunya, hal ini disebabkan
pt. KS masih membutuhkan 3 juta Ton/tahun dengan harga int’al US$ 100/MT.
Bumi Indonesia sebenarnya memiliki kandungan bijih besi tak kurang dari 320
juta ton, deposit yang masih sangat besar itu masih berada di tempatnya dan
belum dimanfaatkan karena membutuhkan Investasi yang sangat besar.
Sebenarnya isu ini bisa menjadi tantangan para Isinyur  ITB dan PT lainnya
untuk mengembangkan pabrik Baja yang lebih efisien??????? Besi dan Baja
merupakan bahan baku Industri Manufaktur, permesinan, jembatan, konstruksi
beton, Instalasi Minyak dll.

Ada anekdot baja di Indonesia, dengan masuknya produk Baja Import membuat
Industri Baja dalam negeri tidak “sekuat Baja”. Kasian
deh……………Mana karya nyata Insinyur Indonesia ??

Salam,
Hilman Muchsin

—–Original Message—–
From: indonesia-bounce@nextbetter.net
[mailto:indonesia-bounce@nextbetter.net] On Behalf Of Achmad Zaenal Abidin
Sent: 11 Januari 2008 14:50
To: indonesia@nextbetter.net
Cc: putu suryawirawan
Subject: [indonesia] Re: AT11.2 : Harga bahan baku baja untuk tabung naik
terus

Indera dan temans,

Apakah ada yang punya jalur industri bahan baku diluar negeri yang
murah/lebih kompetitif dibanding PT. KS ? sehingga kita punya
kemungkinan bahan bakunya import lalu produksi tabung LPG 3 KG nya
lokal ? karena kita punya perusahaan yang sudah lengkap sebagai
importir dengan API dan SRPnya serta sudah biasa import.

Bila perlu ya sebagian import full CKD tabung LPG 3KG untuk kejar
target konversi minyak tanah ke LPG, disamping sebagian produksi
sendiri tabung LPG 3 KGnya ?
Ada yang punya jalur mesti ke manufakturer mana ?

Salam,
AZA

At 14:01 11/01/2008, Indera Sadikin wrote:
>Saat ini harga steel fabrikasi di proyek saya sudah naik sekitar
>10-15% hanya dalam waktu 2 bulan. Budget jadi terganggu. Selain
>pengaruh global yaitu kenaikan harga minyak mentah dunia, juga efek
>lokal yaitu proyek konversi minyak tanah ke LPG :)
>
>Policy maker yang tidak paham betul ekonomi seenaknya bikin
>kebijakan pemakaian LPG nasional secara mendadak, bukannya bertahap
>berdasarkan kapasitas industri yang ada. Lonjakan permintaan steel
>yang tidak alami ini juga sasaran empuk para spekulan. Tahun ini
>kabarnya PLN mau bagi2 lampu hemat energi seharga total 500 milyar
>rupiah. Lagi2 kebijakan pendistorsi pasar. Semoga saja tidak
>terjadi. Benar2 ngawur negara ini.
>
>Regards,
>Indera
>
>_____________________________________
>Indera Sadikin on Mozilla Thunderbird
>
>
>
>goenarso goenoprawiro wrote:
>>Zaenal & teman2,
>>
>>Menurut berita di Detikcom di bawah ini :
>>
>>http://www.detikfinance.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/01/tgl/1
1/time/124556/idnews/877642/idkanal/4
>>
>>Harga bahan baku baja untuk tabung gas akan naik terus.
>>
>>Apakah ada solusi?
>>
>>bycopy to Pak Putu; apakah kita boleh impor baja itu dari luar indonesia?
>>
>>thank you,
>>
>>Goenarso


Tinggalkan Balasan