[indonesia] Re: [Itb] Kapitalisme dan Krisis Global

At 21:00 22/07/2008, Kuroda Takumi wrote:

http://www.republika.co.id/launcher/view/mid/22/kat/24/news_id/672

Kapitalisme dan Krisis Global

Rokhmin Dahuri
Mantan Menteri Perikanan dan Kelautan

Pernyataan Gubernur Bank Sentral AS, Ben Bernanke, Selasa (15/7), bahwa
ekonomi AS yang rapuh kini semakin tertekan akibat skandal kredit perumahan,
gejolak pasar uang, dan naiknya pengangguran, menegaskan AS tengah dilanda
resesi ekonomi. Sejumlah lembaga keuangan (seperti Goldman Sachs, Bear
Stearns, Fannie Mae, dan Freddie Mac) bangkrut.

Penurunan lapangan kerja pun terjadi. Kondisi ekonomi AS memburuk dengan
anjloknya tingkat konsumsi akibat meroketnya harga minyak dan bahan pangan.
Banyak pula lembaga perbankan dunia seperti Duetsche Bank, Barclays Bank,
UBS, Mitsubishi UFJ, dan Mizuho, yang memiliki investasi surat berharga
kredit perumahan AS kena getahnya dan merugi sangat besar. Kekacauan
ekonomi juga memicu aksi jual secara massif di bursa saham global sehingga
membuat indeks harga saham mencapai angka terendah dalam setahun terakhir.

Gonjang-ganjing perekonomian AS telah membuat investor dunia menghindari
aset-aset dalam denominasi dolar AS. Kemudian, investor spekulan ini
berlomba menginvestasikan dananya di bursa komoditas sehingga menyebabkan
melambungnya harga minyak, komoditas pangan, dan inflasi dunia. Ini semua
mengakibatkan pertumbuhan ekonomi dunia melemah dan angka pengangguran kian
meningkat (stagflasi).

Guncangan yang menghantam perekonomian AS dan dunia membuktikan betapa labil
sistem ekonomi ini. Sejak depresi besar pada 1930-an, warga dunia hampir
tidak pernah bisa tidur lelap karena berulangnya krisis ekonomi global.
Krisis minyak 1970-an, the Black Monday Oktober 1987, dan krisis moneter
Asia 1997.

Sayangnya, terapi untuk meredam guncangan yang terjadi di sektor finansial
supaya tidak menjadi krisis ekonomi hanya mengobati gejalanya, belum
menyembuhkan penyebab penyakit. Paket terapi populer, tetapi tidak menyentuh
akar masalah adalah pengendalian suku bunga acuan bank sentral, penyuntikan
dana ke sistem perbankan, atau pengendalian harga melalui peningkatan suplai
serta distribusi barang dan jasa. Padahal, krisis ekonomi global masalahnya
ditengarai berakar pada beberapa faktor. Pertama, cacat bawaan sistem
ekonomi kapitalis yang jadi acuan dalam mengatur tata ekonomi dunia. Kedua,
laju permintaan manusia akan sumber daya alam dan jasa-jasa lingkungan
melampui daya dukung bumi untuk menyediakannya.

Cacat bawaan kapitalisme
Sedikitnya ada tiga kekeliruan paradigmatik ekonomi kapitalis yang tak
mungkin lepas dari lingkaran setan krisis ekonomi. Pertama, tujuan ekonomi
kapitalis bukan sekadar memenuhi kebutuhan dasar manusia, tetapi juga
memuaskan keinginan manusia berupa kebutuhan sekunder dan tersier. Lain
halnya dengan kebutuhan dasar, keinginan manusia yang tidak dilandasi oleh
nilai-nilai Illahiyah, sifatnya menjadi tak terbatas. Sementara itu,
kapasitas alam dan teknologi dalam menghasilkan sejumlah alat pemuas
kebutuhan dan keinginan manusia berupa barang dan jasa berbeda di setiap
negara dan ada batasnya.

Di sinilah ekonomi kapitalis terkena batu sandungan pertama karena memandang
kelangkaan alat pemuas kebutuhan dan keinginan manusia sebagai masalah pokok
ekonomi. Padahal, sejatinya masalah ekonomi terletak pada distribusi alat
pemuas di antara warga dunia yang selama ini tidak adil.

Para kapitalis hanya mengutamakan kepentingan individu atau kelompoknya
dengan menindas pihak lain yang lemah. Filosofi hidup inilah yang mendasari
perilaku liar, curang, dan jahat para investor keuangan dan korporasi
multinasional AS, Eropa, dan negara-negara kapitalis lainnya (Soros, 2008).

Kedua, kehidupan kapitalisme modern digerakkan secara dominan oleh ekonomi
berbasis sektor keuangan, bukan ekonomi berbasis sektor riil. Karena itu,
keuntungan ekonomi diperoleh bukan dari aktivitas investasi dan usaha
produktif dengan menghasilkan berbagai barang dan jasa, tetapi investasi
spekulatif dan transaksi derivatif berisiko tinggi.

Dengan kata lain, kapitalisme menangguk keuntungan bukan melalui kreativitas
dan kerja keras, melainkan melalui kegiatan ekonomi nonriil. Tak heran
pertumbuhan ekonomi yang dihasilkan pun tidak berkualitas, hanya sedikit
menyerap tenaga kerja, dan menguntungkan kelompok atas yang umumnya tinggal
di perkotaan.

Dalam buaian ekonomi berbasis moneter inilah, kapitalisme tak mungkin lepas
dari praktik bunga (riba). Padahal perbedaan tingkat suku bunga yang
signifikan antar negara itulah yang membuat para pialang keuangan dengan
seenaknya mengeruk keuntungan melalui investasi uang panas. Aliran uang
panas dari satu negara ke negara lain dalam jumlah yang luar biasa besarnya
dan berlangsung sangat cepat, selama ini menjadi biang kerok terjadinya
kepanikan finansial yang acap kali berujung pada krisis ekonomi.

Kalau kita pertahankan BI ratepada level konservatif (8,5 persen), investor
sektor riil enggan meminjam uang dari bank untuk investasi di sektor riil.
Sebaliknya, bila kita turunkan tingkat suku bunga, uang panas tersebut akan
secepat kilat keluar dari Indonesia. Konsekuensinya bisa memicu krisis
ekonomi jilid kedua.

Data Moody’s Ratio of Credit Downgrades to Upgrades (2006) memperlihatkan
realisasi kredit di AS menurun tajam sejak 1995 hingga 2005. Tak kurang dari
500 miliar dolar AS obligasi berbasis bunga di Negeri Paman Sam kini tidak
bisa dibayar.Ketiga, uang kertas yang menjadi basis ekonomi kapitalis sangat
rapuh karena selalu terkena inflasi permanen. Uang kertas terdepresiasi
akibat inflasi permanen. Uang kertas juga jauh dari keadilan, lantaran nilai
intrinsiknya jauh lebih kecil ketimbang nilai nominalnya.

Kapitalisme gagal mewujudkan kesejahteraan bagi warga dunia secara
berkeadilan. Selama tiga dekade terakhir, situasinya malah memburuk. Lebih
dari separuh penduduk dunia masih miskin dengan pendapatan kurang dari dua
dolar AS per hari dan 1,2 miliar orang tergolong miskin absolut dengan
pendapatan kurang dari satu dolar AS per hari.

Pada 1960 ada 20 persen warga dunia terkaya berpenghasilan 30 kali lipat
lebih besar daripada total penghasilan 20 persen penduduk dunia yang
termiskin. Pada 2005 kesenjangan tersebut melebar menjadi 95 kali lipat
(Sachs, 2006).

Krisis lingkungan
Falsafah kapitalisme yang menafikan eksistensi Tuhan membuat gaya hidup
kapitalis sangat konsumtif dan hedonis. Diperlukan produksi barang dan jasa
dalam jumlah yang sangat besar dan cepat. Keseluruhan proses produksi,
distribusi, dan konsumsi barang dan jasa untuk memenuhi segenap kebutuhan
dan keinginan memacu laju konversi ekosistem alam menjadi ekosistem buatan,
eksploitasi sumber daya alam (SDA), dan pembuangan limbah.

Biaya hidup dan ongkos produksi barang dan jasa menjadi lebih mahal di
negara yang daya dukung lingkungannya telah terlewati. Ini karena untuk
proses produksi dan pemenuhan kebutuhan dalam negerinya harus mengimpor
berbagai material dari negara lain.

Kondisi semacam inilah yang sejak akhir 1980-an terjadi di negara industri
maju. AS, misalnya, saat ini mengimpor lebih dari 75 persen kebutuhan
nasionalnya dari berbagai pelosok dunia. Karena inflasi terjadi ketika
permintaan agregat terhadap barang lebih besar daripada pasokannya, krisis
lingkungan (terkurasnya SDA dan buruknya kualitas lingkungan) di suatu
negara juga menjadi penyebab inflasi dan krisis ekonomi.

Kini saatnya kita menggalang kerja sama mondial mencari sistem ekonomi
alternatif yang mampu menjamin terpenuhinya kebutuhan dasar bagi setiap
warga dunia serta terpenuhinya kebutuhan sekunder dan tersier sesuai
kemampuan dan upaya individual, daya dukung lingkungan, dan norma keadilan.
Suatu sistem ekonomi yang bebas dari jebakan inflasi permanen sehingga mampu
menyediakan mekanisme kerja sama ekonomi global yang saling menguntungkan
dan berkeadilan bagi seluruh bangsa di dunia.

Dengan kekayaan alam melimpah, posisi geoekonomi yang strategis, dan jumlah
penduduk terbesar keempat di dunia;

Mas Kuroda Takumi dan temans,

Tepat dengan apa yang telah terjadi dengan meroketnya harga minyak dan komoditi pangan dunia, serta menurunnya kurs USD terhadap Euro dan GBP /mata uang kuat lainnya, tetapi ajakan/usulan yang kongkret apa nich mas ? Dengan siapa orang Indonesia yang bisa memutuskan dan atau mempunyai kompetensi tentang perbaikan sistem ekonomi ini ?
Atau mengundang Anggito Abimanyu ? atau membuat seminar dengan tokoh tokoh keuangan dan pengusaha/riil salah satunya Menteri Keuangan sebagai pembicara dan tokoh syariah?

a. Indonesia sendiri belum berani merubah patokan USD sebagai valuta devisanya serta acuan dihampir semua Bank untuk transaksi.
b. Sejauh mana implemantasi Undang undang syariah yang telah disahkan DPR ?
c. Apakah tidak mengajak pusat keuangan baru seperti Dubai untuk mendukung sistem keuangan yang lebih rill/syariah tidak kapitalis yang terbuktiberulang ulang mengalami
krisis?
d. Dimanakah sekarang negara negara yang telah menerapkan sistem keuangan yang lebih riil dan bisa berjalan lebih baik/tanpa krisis sehingga jika didukung banyak negara akan
bisa mengimbangi sistem keuangan kapitalis ?

Salam,
Zaenal EL77

Ikhtisar:
- Sistem kapitalisme terbukti membawa dampak yang lebih buruk.
- Indonesia termasuk yang terjebak dalam sistem yang hanya menguntungkan
sekelompok golongan.

IKLAN LAYANAN MASYARAKAT


Ezda
=> S2D4 the World


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.