Apakah Indonesia telah punya management mitigasi resiko riset dan sumber pembiayaannya?

Rekans,

Komentar Mas Pekik ini sangat terasa untuk dikalangan pengusaha, riset dan perbankan Indonesia.
Perbankan Indonesia dengan BI nya mempunyai management resiko termasuk mitigasi resikonya, sehingga semua pembiayaan dari Perbankan dan umumnya lembaga keuangan khususnya di Indonesia akhirnya hanya bisa membiayai teknologi dan bisnis plan yang telah “proven/terbukti”, makanya selalu diminta produk/teknologi track record dan financial track record dsb. (Lha wong dengan penggunaan teknologi yang telah terbukti saja masih bisa gagal koq, contohnya seperti Lapindo :-( )

Kita tidak bisa salahkan, karena baik Pemerintah/Owner yang mempunyai saham di Bank bank Pemerintah/swasta maupun semua pejabat d Perbankannya, tentu ingin semua pembiayaan bisa kembali dengan keuntunganya alias NPL (Non Performing Loan) sedapat mungkin mendekati nol dengan menghasilkan laba, sehingga dengan demikian karir akan naik dan Banknya juga laba terus yang akan digunakan untuk pembiayaan APBN dan Proyek/Program berikutnya (growth oriented).

Jika semuanya minta yang telah proven, maka tentu baik teknologi maupun merk yang terus bisa menggunakan dana perbankan/modal untuk berkembang adalah yang kebanyakan dari luar negeri termasuk expatriate pun bergaji mahal karena dianggap pasti lebih kompeten dan tingkat trustnya tinggi (walaupun tidak selalu demikian, karena sering terjadi bilangnya pakai expatriate dari luar negeri ternyata hanya fresh graduated yang dikirim dan kerja di Indonesia).

Yang menjadi masalah adalah :

1. Indonesia sangat kekurangan sumber pembiyaan untuk riset.
2. Indonesia menjadi negara penonton yang berkepanjangan dan sangat tergantung kepada import.
3. Banyak lulusan universitas/institut teknik setelah bekerja hanya menjadi pedagang dan atau bekerja di lembaga keuangan.
4. Animo masuk ke universitas/institut teknik semakin lama akan semakin berkurang karena tidak terlalu terasa manfaatnya.
5. Riset teknologi/produk Indonesia makin ketinggalan secara ekponential jika dibiarkan berlarut larut.

Usulan solusinya :

1. Indonesia dengan undang undang melalui DPR dan atau peraturan menteri keuangan/presiden mesti mempunyai management resiko dengan mitigasi resikonya yang standard
sehingga perbankan nasional juga mempunyai keberanian untuk pembiayaan suatu teknologi/bisnis baru yang layak yang bisa diprediksi akan proven dan feasible.
2. Setiap permasalahan di Indonesia yang menimbulkan kerugian besar harus dihitung berapa sebenarnya ongkos yang ditanggung oleh negara/masyarakat? contoh subsidi BBM,
kemacetan lalu lintas, banjir dsb.
Setelah dihitung, akan kelihatan betapa besar subsidi dan kerugian tersebut dialami oleh negara/rakyat, sehingga demi untuk mengurangi subsidi dan atau kerugian tersebut
kedepan yang lebih besar, bisa disediakan dana risetnya berapa persen untuk teknologi baru yang berpengaruh akan mengurangi subsidi dan atau kerugian tersebut.
3. DenganĀ  belum adanya listrik dan telpon di suatu daerah, sebenarnya telah merugikan rakyat berapa rupiah per hari karena tidak mempunyai kesempatan belajar dan
memperoleh informasi apapun yang diperlukan untuk hidup lebih baik.
Sebagai dana risetnya, seharusnya bisa disediakan dari iuran dari anggaran alokasi daerah yang khusus digunakan untuk pengembangan daerah.

Alternatif sumber dana riset lain apa ya? yang tanpa menambah hutang negara?

Salam,
AZA

At 16:24 25/01/2008, Pekik A. Dahono wrote:

Kabar saya baik.

Saya juga tertarik dengan PLT ombak atau lainnya, yang berhubungan dengan laut. Karena kita punya banyak pantai dan laut.
Sayangnya, di Indonesia tidak ada yang mau membayar biaya “belajar”. Di negara lain, belum ada PLT ombak yang terbukti ekonomis. Saya belum bisa comment apakah akan ekonomis. Tetapi ya itu, kita perlu menelitinya. Untuk menelitinya perlu biaya, siapa yang mau ngasih biaya.
Karena orang Indonesia hampir semuanya pedagang, semua mau pakai hanya setelah terbukti ekonomis. Kalau nungguin ekonomis, biasanya kita selalu terlambat dan akhirnya cuma jadi penonton. Karena setelah teknologi merubahnya jadi ekonomis, pedagangnya bilang lebih baik beli daripada bikin sendiri.
Salam

—– Original Message —–
From: yorga effendi
To: indonesia@nextbetter.net
keuntungan lain juga sebagai tempat berkumpulnya ikan sehingga bermanfaat juga bagi para nelayan (tidak sperti kincir angin yang kejam terhadap burung) setahu saya sudah ada unit pelampung yang membangkitkan 1MW.
saya kurang tahu hitungan pastinya, tetapi kalau 1 unit menempati ruang 10m2 (termasuk spasi antara unit) maka cukup 1000m2 untuk pembangkitan 100MW. dan itu di tengah laut, dimana tidak ada orang yang tinggal disana.
Agus Rusmantoro <agus@csmcom.com> wrote:
Dear all,
Aku tertarik pada energi solar cell.
Yang ini ada bisnisnya.
Kebetulan kemarin aku ikut membuat proposal untuk teneder telepon pedesaan
yang akhirnya dibatalkan. Pada proyek tersebut yang paling mungkin adalah
menggunakan solar cell. Estimasi daya solar celll adalah 150 watt.
Jumlah kebutuhan solar cell (termasuk sistem charging, monitoring dan
baterry) +- 30,000 unit.
Menurut perkiraanku, tender akan dibuka lagi sekitar Maret-April 2008.
Nach mungkin ada rekan-rekan yang bisa membantu aku dalam hal solar celll
ini. Produk lokal akan memperoleh bobot yang tinggi. Selain itu pengecekan
produk lokal dilakukan 2 tingkat, suplier akhir dan suplier sebelum akhir.
Wassalam,
> Harga 30 juta/kW udah bagus kok.
> Saya kok nggak yakin generator yang dilengkapi magnetic bearing bisa
> berharga murah.
> Tahun 1990-an saya dan temen di Tokyo mengembangkan bearingless machines
> tetapi sampai sekarang belum bisa jadi barang murah. Saat ini, kita sedang
> mendapatkan dana ventura dari Jepang untuk menjadikannya murah. Tetapi
> sampai saat ini belum ketemu bagaimana caranya.
> Dengan Ferrite tidak akan ekonomis jika kita harus membuatnya jadi
> generator
> yang murah. Pasti ukurannya jadi besar kalau harus membuat sampai daya 50
> kW. Ferrite hanya cocok untuk motor fractional horsepower. Kalau mau daya
> besar ya harus pake NdFeB.
> Melihat kondisi angin di Indonesia, saya nggak yakin bisa feasible dibuat
> daya yang besar. Two-blade turbine hanya cocok untuk daya yang besar
> dengan
> angin yang kencang. Untuk angin yang kecil mungkin lebih cocok multiblade,
> tetapi konstruksinya jadi lebih mahal.
> Kalau lihat roadmap-nya pemerintah lebih ngacau lagi. Di situ
> dicita-citakan
> membuat pembangkit tenaga angin skala 5 MW atau lebih. Rupanya roadmap ini
> dibuat dengan cara ngopi roadmapnya negara-negara di Eropa yang anginnya
> bagus.
> Dalam roadmap juga dicita-citakan membuat multipole generator supaya bisa
> bekerja tanpa roda gigi. Dari hasil studi, menurunkan kecepatan generator
> tidak akan mengurangi size secara keseluruhan. Semakin rendah kecepatan
> maka
> semakin rendah pula power density generatornya. Itu sebabnya banyak
> machine
> tools diputar dengan super high-speed motor supaya power densitynya besar
> sehingga ukurannya menjadi kecil.
> Salam
>
>
>
> —– Original Message —–
> From: “yogi rizkian”
> To:
> Sent: Tuesday, January 22, 2008 3:24 PM
> Subject: [indonesia] Re: Wind Energy
>
>
>
> Pak andri, pa kabarnya? :)
>
> kira2 productnya sudah dijual secara massal blon? Kalo memang sudah
> dipasarkan secara massal, bila ada presentasinya berkenan bisa email ke
> saya
> pak. Saya ingin bawa ke management. Kebetulan kita sudah punya sekitar 40
> site hybrid power system dengan teknologi macem2 (kapan lagi punya lab
> gratis dana agak besaran :) ) Mulai dari turbin-solarcell-diesel,
> solarcell-charge/discharge battery, etc. Nilai investasinya bisa 3-5x
> lipat
> dari apa yang bapak sebutkan dibawah, karena all-impor.
> Mudah2an kalo sudah ada productnya, kita bisa switch ke product, hitung2
> bantu industri dalam negri, dan kalo bisa lagi sekaligus dihitung potensi2
> anginnya di spot2 seluruh indonesia, karena bila ini berhasil kemungkinan
> start ordernya bisa di level 50an keatas.
>
> regards
> -yogi-
>
> —– Original Message —–
> From: “Andri Setiyoso”
> To: indonesia@nextbetter.net
> Subject: [indonesia] Re: Wind Energy
> Date: Mon, 21 Jan 2008 10:16:55 +0700
>
>
> Angka 30% diperoleh dari hasil pengukuran angin dalam waktu minimal satu
> tahun (satu siklus).
> 30% merupakan karakteristik energi angin yang ada di Indonesia (30% bukan
> efisiensi, tetapi kira2 energi rata2 yang didapat dalam satu tahun).
> Jadi kalo energi dari 10kW digunakan untuk mencharging batere, maka batere
> tersebut kira2 akan menghasilkan keluaran daya rata2 3kW.
> Jadi kalo dibilang kendala, ya alamnya yang memberi energi tersebut dalam
> bentuk potensi.
>
> Untuk 10kW, kita ada rencana untuk menjual secara total sistem maksimal
> 300
> Juta ke end user. Tentu saja dengan catatan material tidak bergerak naik
> seperti beberapa minggu terakhir, (saya kurang tahu apakah ada korelasinya
> dengan kedele atau tidak, he he he). Pelat baja yang kira2 sekitar akhir
> tahun lalu harganya Rp. 8.500,- sekarang sudah seitar Rp. 13.000,-an per
> kilonya.
> Kita kolaborasi dalam 3 instansi (Lapan, PT. Pindad, PT. SMART) dalam hal
> ini Pindad kebagian membuat generatornya.
> Kita sedang optimalkan sehingga bisa mendapatkan harga yang komptetitif.
> Kita juga sedang mengembangkan untuk pembangkit dengan kapasitas 50kW,
> kini
> sedang dalam permulaan pembuatan prototipenya.
>
> Selain NTT mungkin ada juga yang punya potensi, yaitu Sulawesi dan juga
> Maluku.
> Sistem PLT-Bayu (angin) ini menggunakan batere untuk penyimpanan energi,
> tapi ya 300Jt tsb tentu saja belum termasuk harga baterenya.
> Jadi hasil energi dari generator digunakan untuk mengisi batere dengan
> dengan rectifier, kemudian dijadikan sumber AC dengan dengan inverter.
> Karena sumber energi listrik dari wind power ini frequensi sangat
> bervariasi, tergantung kepada kecepatan anginnya.
>
> Untuk per unitnya kira2 memerlukan waktu 4bulan, ya karena sebagian besar
> bahan baku masih impor, belum lagi kalo ada pemeriksaan di pelabuhannya.
>
> Magnetik levitation bearing fungsinya memang sebagai pengganti bearing
> secara mekanik pada sisi generatornya. Kalo TGV dan Maglev menggunakan
> super-magnetik (menggunakan super konduktor).
> Benar Pak AZA, fungsinya untuk mengurangi friksi, sehingga nantinya
> diharapkan pada rata-rata angin 2 s.d 4 m/s, generator sudah dapat
> mengeluarkan daya.
>
> Kenapa keluarannya dayanya masih kecil? karena ada batasan berat untuk
> rotor
> dan juga baling2nya.
> sedang permanen magnet yang mungkin ada dipasaran kan seperti ferite,
> maksimal 0,44 T, NdFeB maksimal 1,3 T, kalo AlNiCo repot dengan
> pemeliharaannya.
> karena ada batasan tersebut, saya tidak yakin dengan menggunakan permanen
> magnet yang ada bisa didapatkan daya yang besar (>50kW), kecuali dengan
> super konduktor, kalo ini saya belum terbayang bagaimana kontruksinya, dan
> kalo bisa keluarannya akan besar.
>
> Bisa saja dayanya ditingkatkan, dengan menggunakan modern high speed two
> blade, dimana energi mekanik yang dihasilkan akan lebih besar karena
> putarannya tinggi.
> tetapi juga ada permasalahan, yaitu blade tersebut torka awalnya rendah.
> Tetapi semua harus dihitung dulu sebelum kita mengatakan itu tidak bisa,
> atau kalo ada teori baru? mungkin
>
>
> salam,
> andri
>
> —– Original Message —–
> From: Achmad Zaenal Abidin
> To: indonesia@nextbetter.net
> Sent: Sunday, January 20, 2008 6:31 AM
> Subject: [indonesia] Re: Wind Energy
>
> At 16:28 18/01/2008, Andri Setiyoso wrote:
> Pak AZA,
>
> Barusan saya diskusi dengan orang Lapan, mereka sudah melakukan
> pengukuran atau survei angin di beberapa tempat di Indonesia terutama
> yang potesial (Nusa Tenggara, dan sebagian Indonesia Timur). Untuk
> mensurvei angin minimal diperlukan waktu 1 tahun (untuk melihat
> siklus)
> dan biasanya 2 tahun.
> Hanya saja data yang ada diperoleh dengan menggunakan tower 50m,
> mungkin
> kalo ketinggiannya 15m diatasnya bisa didekati dengan ekstrapolasi.
>
> Sebagian data ada, dan sudah juga dihitung potensial energinya. Lapan
> sudah meneliti wind energi ini sejak tahun 1983.
> Dari data yang ada potensi energi angin yang ada di Indonesia hanya
> 30%
> dari kapasitas maksimal pembangkit yang bisa diharapkan.
> Angka 30% diambil dari mana ? kendalanya apa tidak mencapai effisiensi
> mendekati 80%-90% ?
>
> Misal kalo pembangkit yang ada adalah 10kW, maka daya yang bisa
> diharapkan (terasa) hanya 3kW. Daya 10kW hanya dapat dicapai untuk
> beberapa saat saja pada waktu-waktu tertentu.
>
> Kita juga sudah membuat pembangkit energi angin dengan kapasitas 10kW,
> saat ini sudah di pasang di P. Rote, NTT.
> Boleh dikatakan produk tersebut buatan dalam negeri semua (kecuali
> sebagian besar bahan baku, :) ).
> Harganya berapa per unit 10KW tersebut ? selain kapasitas 10KW Pindad
> telah memproduksi kapasitas berapa KW saja ? apakah dengan turbin type
> yang sama atau beda beda ? per unitnya untuk diproduksi memerlukan waktu
> berapa lama ?
>
> Hanya saja kecepatan angin untuk berputar awal (dari kondisi diam)
> masih memerlukan angin 3,5 m/s, cocok untuk daerah NTT dimana beberapa
> daerah kecepatan angin rata-ratanya 3 s.d 5 m/s.
> Apakah selain NTT tidak mempunyai kecepatan rata2 3-5 m/s atau hanya
> karena tidak ada penggerak awalnya ? apakah tidak bisa menggunakan
> battery
> seperti starter mobil diwaktu awal sebelum digunakan ? atau tenaga
> starter
> awalnya digunakan pakai tenaga matahari/solar cell ? perlu berapa Watt
> (kombinasi berapa ampere dan voltase berapa) untuk memutar awal PLT
> turbin
> angin tersebut?
>
>
> Potensi angin di Indonesia rata-rata 2 s.d 4 m/s, memang menjadi
> tantangan untuk bisa membuat pembangkit dengan kecepatan angin
> tersebut.
> Ada metoda agar bisa memenuhi potensi yang ada, yaitu dengan
> menggunakan
> magnetic levitation bearing,
> magnetic levitation bearing ini fungsinya untuk apa ? apakah maksudnya
> bantalan bearingnya dari magnet seperti rel kereta TGV di perancis
> supaya
> tidak banyak gesekan?
> Jika ya mengapa tidak bekerjasama dengan yang telah akhli saja sehingga
> biaya riset tidak perlu ? karena bukan merupakan part yang besar kan ?
>
> hanya saja metoda ini tentu saja tidak bisa untuk kapasitas yang
> besar
> Kenapa ?
>
> Salam,
> AZA
>
> . Dan yang jadi masalah untuk bisa tahu apakah metoda itu bisa atau
> tidak kan perlu biaya penelitian, :)
>
> salam,
> andri
>
>
> —– Original Message —–
> From: Achmad Zaenal Abidin
> To: indonesia@nextbetter.net
> Sent: Thursday, January 17, 2008 7:20 AM
> Subject: [indonesia] Re: Wind Energy
>
> Rekans,
>
> Kendala utama untuk energy angin untuk Indonesia adalah belum adanya
> data yang akurat tentang kecepaan angin berapa meter/detik ? untuk
> ketinggian 50-100 meter diatas tanah di lokasi lokasi yang kita duga
> kecepetan anginnya cukup tinggi.
>
> Supaya ekonomis, untuk mengukur kepecatan angin dan kontinuitasnya
> di
> ketinggian 50-150 meter diatas tanah pakai apa ?
>
> Salam,
> AZA
>
> At 21:25 16/01/2008, Tri Basoeki Soelisvichyanto wrote:
> Nets,
>
> Saya kebetulan jalan2 di internet…
>
> terlampir skema sederhana dari wind energy, saya ambil dari
> situsnya
> galileo (courtesy of US Department Energy)
> mungkin di daerah yang banyak anginnya di Indonesia bisa manfaat?
>
> disebutkan juga ancer2 biayanya (budget)
>
> “Basic supply cost for the 50 meter tower with three levels of
> wind
> speed sensors and two wind direction sensors is 15000 Euro. This
> estimate is for a typical installation on flat, level, clear ground ,
> with “normal soil” conditions and does not include travel costs.
> Basic supply cost for the 25 meter tower with two levels of wind
> speed sensors and one wind direction sensors is 10000 Euro. This
> estimate is for a typical installation on flat, level, clear ground ,
> with “normal soil” conditions and does not include travel costs.
>
> Basic supply cost for the 10 meter tower with one wind speed
> sensor
> and one wind direction sensor is 5000 Euro. This estimate is for a
> typical installation on flat level ground, with “normal soil” conditions
> and does not include travel costs.”
>
> Maaf kalau repost atau mungkin sudah “agak basi”.
>
> Salam
> # tribas
Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta
kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.