Algae vs Jarak pagar untuk BBM nabati was Re: [indonesia] The 12 Pillars of Competitiveness

Mas Dwi Arianto dan Rekans,

Yach cerita tentang jarak pagar memang agak memprihatinkan, karena saya sendiri termasuk yang “terbius” ikut menggencarkan penanaman jarak agar karena promosi dari teman2 ITB seangkatan dan bahkan beberapa kali mengikuti seminar seminar yang diadakan oleh IPB sebagai institut pertanian yang terkemuka.
Yach termasuk IPB juga mempromosikan dengan hebat jarak pagar dengan berbagai produk turunannya.
Bahkan saya sendiri ikut mencoba dengan minta adik saya untuk menanam sebagai percobaan 1000 batang jarak pagar dengan cara stek di Kebon sendiri di Matesih Karanganyar dekat astana Giribangun makam mantan presiden Soeharto :-) , yang saya suruh campur sarikan dengan 900 an pohon Mahkota dewa.
Sebagai catatan, Matesih adalah tanah yang jika musim hujan becek karena tanah lempung, tetapi jika musim kemarau tanahnya retak retak.
Sebelumnya saya berpikir bahwa tanah tersebut tanah yang cocok untuk jarak pagar sebagai tanah marginal, karena untuk cengkeh dan tanaman lain juga tidak begitu subur.

Hasilnya, yang tumbuh dengan baik sampai sekarang paling ada 100 an pohon jarak dan 200 an pohon mahkota dewa.
Dari pohon yang tumbuh dengan baik tersebut, yang berbuah juga tidak banyak :-( padahal penanaman tersebut sebagai percobaan untuk penanaman lebih lanjut yang lebih besar karena saya ditawari untuk kerjasama dengan Koperasi di Sumatera Selatan yang mempunyai lahan ribuan hektar untuk menanam jarak pagar dan dirikan pabrik biodiesel disitu dengan bahan baku buah jarak pagar.

Tetapi karena sampai sekarang pertanyaaan saya belum terjawab dengan baik tentang :

1. Tanaman jarak pagar yang tumbuh per hektar ?
2. Tanaman jarak pagar yang berbuah per hektar ?
3. Apakah buah dari jarak pagar muda bisa langsung digunakan sebagai bibit tanaman jarak pagar berkwalitas tinggi ? atau hanya bisa digunakan sebagai bahan baku minyak
jarak/bio diesel ?
4. Apakah telah bisa dibedakan biji jarak yang kwalified untuk bibit (bisa lebih mahal harganya) dengan untuk bahan baku minyak jarak saja (tentu harganya harus murah) agar
industri minyak jarak/BioDiesel benar benar tumbuh dengan baik, karena jika harga biji jarak untuk produksi minyak jarak masih seperti bibit dengan harga diatas
Rp.10.000/kg, maka niscaya tidak akan tumbuh industri minyak jarak/biodieselnya.

maka saya belum berani melangkah lebih jauh.

Akan halnya Algae,

Supaya tidak terjadi pengalaman tentang jarak pagar, maka perlu diketahui segera tentang Algae adalah :

1. Budidaya algae bisa dimana saja ? kriterianya environment apa yang diperlukan?
2. Jenis apa Algae yang paling bagus sebagai bibit unggul ?
3. Bisa diperoleh dimana bibit algae dengan harga berapa ?
4. Berapa biaya untuk membudidayakan algae (termasuk perawatan) sehingga bisa dipetik sebagai bahan baku industri biodiesel ?
5. Apakah hasil budidaya algae juga bisa dipergunakan sebagai bibit budidaya algae berikutnya ?
6. Setelah hasilbudidaya algae mencapai berapa kg/ton bisa mulai digunakan sebagai bahan baku industri biodiesel dengan skala ekonomis ?
7. Perusahaan mana saja yang telah mampu membuat industri biodiesel dengan bahan baku algae ?
8. Berapa harga investasi pabrik biodiesel yang mengolah algae menjadi biodiesel untuk minimum skala ekonomis?

Apakah ada rekans yang telah mempunyai pengalaman dengan jarak pagar lebih baik ?
Apakah ada rekans yang telah mempunyai pengalaman dengan Algae dengan baik ?

Salam,
AZA

At 14:35 16/02/2008, Dwi Arianto N wrote:

(Sumber: Kompas 15 Juli 2006)
Krisis bahan bakar minyak global ikut memukul Indonesia. Alternatif substitusi BBM pun dicari. Dan tanaman jarak sempat menyedot perhatian. Benarkah jarak bisa mengatasi soal BBM? Jangan-jangan kebijakan yang dibuat bisa membuat pemerintah kian tak populer. Mengapa? Dari tiap hektar kebun jarak pagar (Jatropha curcas), dalam setahun hanya menghasilkan 1.500 liter minyak. Ini lebih baik dibanding biji lobak yang menghasilkan 1.000 liter dan biji kubis (mustard) 1.300 liter. Namun, jarak masih kalah unggul dari kelapa (2.200 liter), sawit (Crude Palm Oil/CPO) (5.800 liter), dan terlebih lagi dari algae yang produktivitasnya mencapai 40.000 hingga 120.000 liter per hektar per tahun. Produktivitas algae benar-benar luar biasa dibanding CPO sekalipun.
Ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tetirah di resor Losari, Jawa Tengah, memang ada laporan tentang jarak, metanol (dari tetes tebu), dan CPO. Tetapi perhatian SBY dan pers terfokus ke jarak. Alam pikiran bawah sadar kita beranggapan, ada tumbuhan ajaib yang bisa mengatasi masalah dan bisa memakmurkan rakyat Indonesia yang terus dirundung bencana.
Dalam pertemuan informal dengan para menteri di Losari itu, tidak ada sedikit pun info tentang algae. Hingga media, termasuk Kompas, terkecoh mempromosikan jarak pagar sebagai komoditas yang bisa mengatasi krisis BBM sekaligus memakmurkan petani Indonesia. Sejak Kompas memuat informasi tentang jarak (11-12/7/2006), banyak pertanyaan ihwal komoditas itu.
Plus minus jarak
Meski produktivitasnya kalah dari kelapa dan CPO, jarak tetap memiliki keunggulan sebab budidaya dan pascapanennya amat sederhana hingga bisa dilakukan dalam skala rumah tangga. Jarak juga bisa digunakan untuk bahan bakar sehingga tidak bersaing sebagai produk pangan, seperti kelapa dan CPO. Jarak memiliki keunggulan, dapat dikembangkan di kawasan kering dan tandus, misalnya di Provinsi NTT.
Kelemahan jarak adalah produktivitasnya. Produktivitasnya justru menurun jika dibudidayakan di lahan subur, di kawasan basah. Jika jarak ditanam di Pulau Jawa, daunnya akan rimbun tapi buahnya sedikit. Selain itu, harga biodiesel dari jarak harus lebih murah dari solar. Jika harga solar Rp 4.300 per liter, minyak jarak hanya bisa dijual Rp 4.000 di tingkat konsumen atau Rp 3.500 di tingkat produsen. Dengan produktivitas 1.500 liter per hektar per tahun, pendapatan bruto agroindustri jarak Rp 5.250.000 per hektar per tahun.
Nilai rata-rata lahan di Jawa sudah di atas Rp 10.000 per meter persegi atau Rp 100.000.000 per hektar. Dengan suku bunga deposito lima persen per tahun, jika lahan dijual dan uangnya dideposito, maka hasil bersihnya Rp 5.000.000 per tahun tanpa harus kerja dan menanggung risiko.
Masih banyak komoditas yang hasilnya lebih tinggi dari jarak. Komoditas pangan atau hortikultura, dengan masa panen 3-4 bulan (4-3 kali panen per tahun), hasil lahan itu pasti lebih tinggi.
Informasi inilah yang disembunyikan para promotor jarak. Rakyat, bupati, gubernur, menteri, bahkan presiden, tidak diberitahu bahwa pendapatan bruto agroindustri jarak hanya Rp 5.250.000 per hektar per tahun.
Pendapatan ini tidak feasible untuk disodorkan ke rakyat. Sebab bagi mereka, lebih menguntungkan memproduksi CPO atau gula tebu dengan hasil sampingan biodiesel dan metanol.
Keunggulan “Algae”
Masyarakat awam biasa menyebut algae sebagai lumut. Tumbuhan purba ini sering mengganggu akuarium dan kolam renang. Itu adalah algae bersel banyak. Algae yang rendemen minyaknya tinggi dan pertumbuhannya cepat adalah tumbuhan bersel satu, terutama yang hidup di laut. Algae bersel satu ini tidak berakar dan tidak berdaun, tetapi berklorofil. Ia juga lazim disebut microalgae, phytoplankton, microphytes, planktonic algae, atau cyanobacteria. Produktivitas algae dalam menghasilkan biodiesel bisa tinggi karena beberapa faktor.
Algae amat efektif dalam mengubah nutrisi dan karbon dioksida (CO2) dari air, dengan bantuan sinar matahari hingga menjadi energi. Proses penyerapan nutrisi, CO2, dan sinar matahari pada algae berlangsung sederhana, cepat, dan murah. Beda dengan proses serupa pada tanaman tingkat tinggi.
Karena bisa hidup di air laut maupun tawar, budidaya algae bisa dilakukan dengan cara terbuka dan ekstensif di perairan laut yang dikelilingi karang (atol), danau, kolam, atau kanal. Budidaya algae juga bisa dilakukan secara tertutup dengan menaungi kolam, kanal, atau bak menggunakan plastik (greenhouse), dan mengatur suplai nutrisi. Cara tertutup yang lebih efisien adalah dengan photobioreaktor. Sistem ini merupakan pengembangan tangki bioreaktor biasa yang diberi tambahan sumber sinar buatan.
Kelebihan algae dibanding bahan nabati lain adalah pengambilan minyaknya tanpa perlu penggilingan. Minyak algae (alga oil) bisa langsung diekstrak dengan bantuan zat pelarut, enzim, pengempaan (pemerasan), ekstraksi CO2, ekstraksi ultrasonik, dan osmotic shock. Panen algae bisa dilakukan dengan aneka cara, mulai dari penyaringan mikro, sentrifugal (pemutaran), dan flokulasi (flocculation). Flokulasi adalah pemisahan algae dari air dengan bantuan zat kimia.
Keunggulan Indonesia
Budidaya microalgae secara massal sudah dilakukan antara lain di Danau Texcoco di bagian tengah Meksiko. Jenis algae yang dibudidayakan adalah Spirulina (Arthospira platensis), jenis algae hijau/biru (cyanobacteria). Budidaya algae di Meksiko ini bukan untuk memproduksi biodisel, tetapi sebagai bahan pangan. Dibanding Meksiko, Indonesia lebih unggul karena perairan lautnya lebih luas dari daratan. Budidaya algae secara ekstensif di laut lebih murah dibanding di darat.
Algae tidak hanya berpotensi menghasilkan biodiesel. Komoditas ini bisa menjadi bahan pangan, pakan ternak, biomassa yang langsung bisa dibakar, untuk industri farmasi, plastik, metanol, guna mengatasi pencemaran lingkungan. Sayang, komoditas hebat ini suaranya “nyaris tak terdengar”. Yang gencar dipublikasikan justru jarak, yang produktivitasnya rendah.
Keputusan SBY untuk mengembangkan jarak mestinya tidak terjadi jika saja diberikan informasi lengkap tentang potensi bahan nabati, untuk biodiesel dan metanol. Mulai dari jarak, kelapa, CPO, singkong, ubi jalar, dan algae. Komoditas ini merupakan masa depan pengganti BBM. Indonesia dengan laut tropisnya yang luas berpotensi memproduksi BBM dari algae.

Karena Hidup Adalah Suatu Dedikasi dan Kontribusi

Dwi Arianto Nugroho


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.