Re: [PersIndonesia] BERAKHIRNYA EKONOMI > sebaiknya dagang uang dilarang, yang boleh tukar saja!

Temans para akhli keuangan dan hukum Islam,

Mari teman teman, para akhli atau mengerti keuangan berpikir kembali apakah sistem ekonomi dan keuangan masih akan dipertahankan seperti sekarang ? terutama definisi soal currency, jaminannya, nilai tukar dan perdagangannya.

Apakah kita tidak bisa bertemu atau berkumpul untuk membahas dan melahirkan usulan kepada pemerintah tentang :

1. Melarang perdagangan valuta/currency sedangkan yang boleh adalah menukarkan tanpa laba/rugi, sebagai service dari Bank Bank Pemerintah/swasta saja, sedangkan
keuntungannya bisa diperoleh dari margin lending fund saja terhadap deposit fund.
2. Bagaimana nilai tukar antar negara stabil sehingga inflasi riil tidak dipengaruhi oleh naik turunnya nilai tukar hanya karena perdagangan yang dilakukan oleh sekelompok orang.

Mengapa perlu dilakukan segera hal diatas ? kita lihat faktanya dengan krisis ekonomi tahun 1997 dan sekarang tahun 2008, dimana hanya karena kebangkrutan beberapa perusahaan di AS menimbulkan madhorot bagi seluruh dunia.

Seharusnya karena kepanikan para investor dengan menjual cepat saham sahamnya sehingga harga jatuh/anjlok, tidak perlu mempengaruhi nilai tukar rupiah untuk Indonesia atau currency lain untuk negara lain jika currency tidak boleh diperdagangkan sehingga tidak mempengaruhi rakyat Indonesia yang tidak ikut berbuat/membeli saham yang mayoritas adalah kaum menengah kebawah.

Sistem ekonomi dan perdagangan currency sekarang benar benar tidak adil untuk seluruh dunia, karena masyarakat yang tidak ikut bermain saham dan berdagang valuta tetapi ikut menanggung akibat naik turunnnya nilai valuta currency yang merupakan nilai tukar riil bagi seluruh penduduk Indonesia/dunia.

Dalam waktu sekejap nilai rupiah terhadap USD telah mencapai Rp. 9.780/USD padahal beberapa bulan yang lalu Rp. 9.100/USD, berarti telah terjadi inflasi 7,47% yang akan menaikkan hampir semua harga barang karena banyak yang pengaruh import yang akan membebani baik negara dari sisi pembayaran utang negara maupun rakyat biasa untuk memenuhi kebutuhan sehari harinya.

Dengan perdagangan valuta/currency dilarang, maka yang ada hanya penukaran valuta/currency oleh Bank Bank Pemerintah/swasta hanya sesuai dengan kebutuhan riilnya saja dimana nilai tukar valuta antar negara niscaya akan relatif stabil dan setiap gejolak seperti sekarang hanya akan mempengaruhi saja para pemain saham tetapi tidak mempengaruhi seluruh rakyat indonesia/dunia.

Salam,
Zaenal

At 19:12 07/10/2008, gsuryana wrote:

Maaf sebelumnya.

Pada saat sebuah mata uang siap di pakai sebagai alat tukar ( jual beli ),
tentunya harus berdasarkan nilai yang sepadan, dalam hal ini sebuah
negara/kerajaan bisa mencetak mata uang berdasarkan cadangan devisa, dimana
emas menjadi salah satu instrumentnya, semisal sebuah negara yang memiliki
cadangan devisa 1 juta dirham, dalam hal ini menandakan bahwa negara
tersebut bisa melakukan transaksi dengan perputaran sampai senilai 1 juta
dirham, dimana bila sampai melakukan transaksi diatas 1 juta dirham, maka
negara tersebut dinyatakan sudah mengalami inflasi, karena terjadi defisit.

Amerika dengan US$ memiliki defisit yang aduhai, sehingga beberapa negara
sudah bersiap mengatasinya semisal UE dengan Euro nya, China dengan remingbi
nya ( memiliki nilai cadangan devisa yang paling besar di dunia ).
Dan Amerika yang memang sudah kadung menguasai dunia tinggal mencetak dollar
di saat dibutuhkan, dan negara lain mau tidak mau ‘mendukung’ nya dalam hal
ini negara peng export ke Amerika, sehingga ketika transaksi berlangsung,
akan selalu kembali dibayar dalam mata uang US$, adalah sebuah hal yang
mustahil melakukan transaksi perdagangan dengan Amerika sedang ketika
dibayar harus dengan Dirham, bila US$ tersebut ditukar dengan Dirham pun
pada akhirnya akan sama dengan nilai tukar Dirham dengan US$, semisal sebuah
produk di hargai 10 US$ identik dengan 2 Dirham, maka setelah transaksi di
tukar ke Dirham, disini mau tidak mau dikenakan biaya tambahan, yang pada
akhirnya merugikan perusahaan pengexportnya, kemudian ketika membeli bahan
baku yang ternyata harus di import dari beberapa negara lain, semisal RRT
dan UE, maka dirham tersebut ditukar kembali ke Remingbi dan Euro, disini
kembali dikenakan biaya tukar….dengan demikian renternir/bank malah
menjadi lebih makmur.

Masalah ekonomi tidak bisa di ejawantah kan menjadi sedemikian sederhana,
karena memang pasar sudah sedemikian komplex, semisal peranan bank dan
pedagang kaki lima, tentunya tidak bisa di jadi kan bahan perbandingan,
karena yang satu memakai perputaran uang yang besar, sedang yang satu
memakai perputaran yang kecil, berbeda dengan perusahaan besar apalagi sudah
melakukan perdagangan dengan dunia luar, maka peranan bank menjadi
sedemikian penting, sehingga biaya yang seharusnya tinggi menjadi lebih
rendah karena dibantu oleh bank, biarpun pada awalnya peranan bank sama
dengan rentenir.

Krisis dan kemiskinan di dunia ketiga dan dunia terbelakang bukan terjadi
karena nilai mata uang, melainkan sumber daya manusia yang terlalu lemah,
sehingga tidak berdaya ketika bersaing dengan negara lain.
SDM bisa di sebab kan

- Pendidikan
- Kesehatan

Citibank yang notabene bank besar milik Amerika saat ini kepemilikan saham
terbesar sudah dimiliki oleh konglomerat dari Arab Saudi, dan konglomerat
Arab tersebut tidak menginvestasikannya dalam bentuk Emas, karena perputaran
uang di dunia bisa dibilang dalam bentuk nilai mata uang yang berdasarkan
cadangan devisa.

Ekonomi dunia tidak akan pernah berakhir selama masih ada manusia, maka
selama itu pula ekonomi berputar.
Amerika mengalami krisis, bisa jadi akan berdampak ke banyak negara lain,
karena Amerika bisa dibilang negara dengan masyarakat yang sangat konsumtif
sekali, sehingga negara pengexport ke Amerika lah yang akan mengalami
dampaknya, sedang bagi negara yang kurang melakukan kerja sama dagang dengan
Amerika, otomatis dampaknya berkurang, dan paling mungkin mengalami inflasi
karena naiknya harga barang.

Informasi, ditahun 2000 lalu, nilai mata uang Euro terhadap US adalah
berkisar 0,8 US$, dan sekarang 1 Euro senilai 1,4 US$, terlihat bahwa mata
uang Euro menguat kepada US$, akibat tidak langsung wisatawan Amerika yang
berkunjung ke Europa harus mengeluarkan uang lebih banyak dibandingkan
sebelum tahun 2000. Dan ini adalah sebuah kewajaran didalam sebuah sistim
ekonomi dunia.

sur.
http://indolobby.blogspot.com
—– Original Message —–
From: “alfaqirilmi”

BERAKHIRNYA EKONOMI

Salah satu instrumen yang digunakan dalam sistem perdagangan
internasional adalah menggunakan instrumen mata uang dollar AS.
Setelah krisis ekonomi global terjadi setelah Perang Dunia II,
melalui pertemuan Breton Woods dirancanglah sebuah sistem mata uang
dollar sebagai mata uang utama dalam perdagangan dunia, sekaligus
menjadikan World Bank, International Monetary Fund (IMF) sebagai
pengendali sistem keuangan internasional. Perjanjian Breton Woods
pada tahun 1973 kemudian dihapuskan ketika Amerika Serikat secara
unillateral memutuskan bahwa Dolar Amerika tidak perlu lagi didukung
oleh emas. Sejak itulah Dolar Amerika tidak bedanya dengan lembaran
kertas saja. Dengan mata uang dollar AS, Amerika Serikat memegang
kekuasaan luar biasa yang sangat tidak proporsional. Dengan kertas
yang disebut Dolar AS, mereka bisa membeli berbagai komoditi seperti
minyak, gas, aluminium, emas, dll dari negara-negara lain di dunia.
Jika mereka perlu lebih banyak komoditi, mereka tinggal mencetak saja
lagi. Jadi sistem semacam ini amatlah tidak adil dan tak bermoral.
Hal ini telah mengeksploitasi model perdagangan dengan sistem
pembagian kerja internasional. Surplus ekonomi bagi sekutu-sekutu
Amerika terus terjadi, yang berdampak pada ketidakseimbangan
perdagangan global. Negara-negara miskin tidak mampu melakukan ekspor
tanpa didukung impor sehingga negara-negara miskin mengalami “a
vicious circle of import”. Akibatnya negara-negara miskin memiliki
tingkat ketergantungan yang begitu kuat terhadap negara-negara maju.
Sistem keuangan internasional yang dirancang pasca Perang Dunia II
dalam Breton Woods, telah melahirkan ketidakadilan neraca keuangan
global. Defisit terus menimpa negara-negara miskin dan surplus
keuangan terus ditarik ke negara-negara maju.Karena dunia kini
dibanjiri terlalu banyak dolar. Dalam pasar-pasar uang saja, terdapat
gelembung dolar AS yang berjumlah 80 triliun dolar AS pertahun.
Jumlah ini 20 kali lipat melebihi nilai perdagangan dunia yang
jumlahnya sekitar 4 triliun dolar AS pertahun. Artinya, gelembung itu
bisa membeli segala yang diperdagangkan sebanyak 20 kali lipat dari
dimensi yang biasa. Gelembung ini tentu akan terus membesar dan
membesar. Anda tidak perlu terlalu bijak untuk memahami bahwa
gelembung itu suatu saat akan meledak dan pecah, dan terjadilah
keruntuhan ekonomi global yang niscaya lebih buruk daripada depresi
ekonomi tahun 1929.Sebagai perbandingan yang kontras, emas adalah
logam yang berharga. Nilainya tidak bergantung pada negara mana pun,
bahkan tidak bergantung pada sistem ekonomi mana pun. Nilainya adalah
intrinsik dan dapat dipercaya. Oleh karena itu, emas adalah mata uang
yang dapat menjamin kestabilan ekonomi dunia.Sistem keuangan global
sudah berkembang melebihi batas. Dengan perdagangan “kertas berharga
yang turunan sekunder” (secondary derivatives papers), sistem
keuangan dunia menjadi tidak “favorable” kepada sektor riil
karena “money makes money” lebh tinggi hasilnya. Maka, kalau anda
punya uang akan lebih tertarik untuk memainkannya di bisnis keuangan
ketimbang membangun bisnis di riil sektor. Perdagangan kertas
berharga tersebut adalah barang maya, hanya ilusi, tidak nyata, tidak
terkait dengan bisnis riil. Ini yang menyebabkan terjadinya gelembung
ekonomi dunia. Apa akibatnya? Sektor riil lambat bergerak, kecuali di
China yang menganut paham berbeda, tidak berdasar “supply and
demand”. China tetap memproduksi walau tidak ada permintaan. Alasanya
adalah stabilitas keamanan sehingga tidak ada penduduk China yang
menganggur, semua bekerja, memproduksi apa saja, mulai dari peniti
sampai komponen pesawat terbang. Manajemen 1 miliar penduduk yang
ternyata membawa China kepada kekuatan ketiga di era kini.Sejarahnya,
emas dan perak adalah mata uang dunia paling stabil yang pernah
dikenal. Sejak masa awal Islam hingga hari ini, nilai mata uang Islam
dwilogam itu secara mengejutkan tetap stabil dalam hubungannya dengan
barang-barang konsumtif. Seekor ayam pada zaman Nabi Muhammad saw.
harganya satu dirham. Hari ini, 1400 tahun kemudian, harganya kurang
lebih masih satu dirham. Dengan demikian, selama 1400 tahun, inflasi
adalah nol. Dalam jangka panjang, mata uang dwilogam telah terbukti
menjadi mata uang dunia paling stabil yang pernah dikenal. Mata uang
tersebut telah dapat bertahan, meskipun terdapat berbagai upaya untuk
mentransformasi dinar dan dirham menjadi mata uang simbolik dengan
cara menetapkan suatu nilai nominal yang berbeda dengan beratnya.Kita
harus kembali kepada Sistem perekonomian berbasis komoditi riil,
dimana dinar dirham hanyalah salah satu komponen penting. Ada “5
pilar sistem ekonomi berbasis emas” akan menjadi solusi masa depan
dunia yang tidak terelakkan. Pertama, “Money (Freely Chosen)” yaitu
Mata uang harusnya bebas ditentukan oleh masyarakt penggunanya.
Kedua, “Open Markets Infrastructure” yaitu infrastuktur pasar terbuka
dimana setiap orang mempunyai hak, seperti mesjid. Ketiga, “Caravans -
Open Distribution and Logistic Infrastructure” yaitu jaringan
logistik dan distribusi yang terbuka bagi siapa saja. Keempat
adalah “guilds – open production infrastructure” yaitu sentra-sentra
produksi kerakyatan harusnya mendapat perhatian dari pemerintah untuk
menjadi tempat yang layak untuk berproduksi sebagaimana standard
global yang berlaku. Kelima adalah “Just Contractual Legal Frameworks
(Shirkat and Qirad). Kelima infrastruktur tersebut haruslah dimiliki
oleh publik.Teknologi informasi merupakan sarana yang dapat
mengkudeta fungsi perbankan atau istilahnya “coup de banque”. Anda
bisa bayangkan, sebenarnya fungsi perbankan kan amat sederhana, hanya
mengadministrasi pencatatan plus dan minus saja dengan sedikit
variasi perhitungan, mengapa menjadi raja yang mengatur dan
menentukan sektor-sektor lain. Pasti ada yang salah kan. Jaman Nabi
dulu, para pedagang lah yang berada di gedung mewah, semntara
rentenir itu yang berada di jalanan. Sekarang yang kita lihat
terbalik. Para bankir duduk-duduk di gedung mewah, sementara para
pedagang kaki lima berceceran di sepanjang jalan, malah kena gusur
tibum segala. Maka, jangan salahkan orang lain kalau Indonesia
miskin, karena tidak mengikuti ajaranNya padahal Indonesia adalah
negara dengan mayoritas muslim di dunia.

Prof. Umar Ibrahim Vadillo, Pemimpin Korporasi E-dinar Dotcom, suatu
electronic payment system” berbasis emas, yang juga menjabat sebagai
Ketua WITO (World Islamic Trade Organization). Penulis beberapa buah
buku yang dianggap oleh masyarakat dunia sebagai MENGGEMPARKAN
(ENLIGHTINING), membuka mata dan hati para pembacanya. Diantaranya
yang terkenal berjudul “THE ESOTERIC DEVIATION IN ISLAM”, “THE END OF
ECONOMICS”, “THE RETURN OF THE GOLD DINAR”, “THE RETURN OF THE
GUILDS”, “THE FIVE PILLARS OF THE ISLAMIC ECONOMICS”, “COUP DE
BANQUE”, etc

~ oleh Achmad Zaenal Abidin di/pada Oktober 23, 2008.

Tinggalkan Balasan