Pendidikan lebih cepat, murah sehingga bisa gratis lebih banyak dan tinggi, negara cepat makmur was Re:Berbaktilah pada Bangsa dan Negara Tetangga Kita
Usulan Pak Lili menarik sekali, jika benar bisa dilaksanakan biaya pendidikan akan lebih murah, sehingga dengan anggaran yang sama mendekati Rp. 200 trilyun seperti sekarang yang bsia memperoleh pendidikan gratis makin banyak penduduk dan sampai jengjang yang lebih tinggi serta waktu yang diperlukan akan lebih cepat.
Dengan demikian tujuan masyarakat adil makmur akan bisa lebih cepat, karena salah satu faktor pendorong kemakmuran adalah tingkat pendidikan yang lebih baik bagi seluruh penduduk Indonesia.
Tetapi apakah dari segi pyschology mendukung juga pendidikan sampai dengan klas 4 lalu setelah klas 5 dan 6 disiapkan pelajaran untuk menghadapi masa depan Republik ini yang menurut saya lebih baik diarahkan ke arah negara industri, agraris dan trading sekaligus karena mempunyai ketiga potensinya
Salam,
Zaenal
At 08:05 24/09/2008, Teuku Reiza Yuanda wrote:
Sistem pendidikan di Indonesia justru membunuh kreativitas murid. Baik yang diajarkan di setingkat SMP maupun SMA. Proses belajar-mengajar selama ini hanya ditekankan kepada satu proses pemahaman fenomena alam, atau lazim dikenali sebagai proses deduktif. Bila cara itu yang digunakan, proses itu tidak akan berhasil membuat siswa/i menjadi kritis analitis. Justru efek sampingnya membunuh kreativitas siswa/i tersebut. Terutama dalam upaya menyisir fakta-fakta dari fenomena rumit untuk menghasilkan konsep hipotesis atau model teori yang sederhana.
Mengapa negara kita semrawut? Jawabannya karena orang hukum hanya bicara bukti, bukan fakta.
Dalam proses pengajaran di sekolah-sekolah menengah di Indonesia, siswa/i diajarkan terlatih menurunkan rumus. Namun, sebaliknya, siswa/i tidak diberi ruang untuk melatih melakukan generalisasi, abstraksi, atau idealisasi dari fakta atau fenomena alam untuk merumuskan suatu model teori. ‘Padahal, dalam melakukan generalisasi inilah, tumbuh kreativitas anak dalam melihat fenomena alam.
(dikutip dari Prof. Tjia May)
Ketika saya mendaftar program Master di Jerman, saya diminta mengirimkan nilai STTB dari SD s.d. SMA, dan panitia seleksi kagum akan mutu nilai kuantitatif dari STTB tersebut (kecuali STT SMA, dimana ada 2 nilai merah,, hehehe..)
Beberapa minggu lalu, salah seorang Profesor menyindir dalam sebuah workshop, “Beberapa negara berkembang terkenal akan tingginya kualitas pendidikan “elementary” s.d. “senior high school”, dimana sejak kanak-kanak telah diajarkan berbagai macam ilmu pengetahuan. Hal tersebut berbeda dengan sistem pendidikan dasar dan menengah di Jerman. Selain hanya memberikan mereka “basic knowledge” sebagai persiapan sebelum mereka memasuki “Berufsbildungswerk” (vocational education) atau Universitaet sebagai jenjang pendidikan tinggi, pengajar dan peserta didik saling berinteraksi harmonis dalam meningkatkan pemahaman peserta didik mengenai aktualitas sosial atau gejala alam yang terjadi, sekaligus memperkaya wawasan mereka dengan prediksi-prediksi ilmiah sederhana mengenai suatu kejadian di masa lalu dan saat ini, untuk meningkatkan “awarness” mereka. Bla bla bla (saya lupa dia ngoceh apalagi, gak sempat dicatat di notepad)”
Saya mengangkat tangan, dan nyeletuk dengan cuek, “Sistem pendidikan Jerman tentu berbeda dari segi karakter, target dan juga regulasi serta legislasi yang mendukung hal tersebut dapat terjadi secara berkesinambungan dan berdaya guna dibandingkan dengan negara berkembang, katakan dalam hal ini Indonesia. bla bla bla bla…. (saya lupa ngomong apa, dengan bahasa Inggris yang makin ancur lebur,, hehehe,,).
Intinya, mumet kalo diskusi tentang Sisdiknas Indonesia
———————
Teuku Reiza Yuanda
http://www.linkedin.com/in/teukureiza
—– Original Message —-
From: Lili Tjarli
To: indonesia@
Sent: Wednesday, September 24, 2008 2:27:55 AM
Subject: [indonesia] Re: [kalam_salman] Re: Berbaktilah pada Bangsa dan Negara Tetangga Kita
Kalu begitu kita usulkan saja pelajaran SD kls 1 sd 4 hanya pelajaran Membaca, Menulis dan Berhitung serta Budi Pekerti dan Agama.
Setelah itu kls 5 dan 6 disiapkan pelajaran untuk menghadapi masa depan Republik ini.
Republik ini mau dirancang untuk jadi negara apa sih? Negara industri ? negara agraris atau hanya jadi trader/makelar saja?
From: indonesia-bounce@ [mailto:indonesia-bounce@] On Behalf Of Dadi Maspanger
Sent: Wednesday, September 24, 2008 6:23 AM
To: indonesia@
Subject: [ indonesia ] Re: [kalam_salman] Re: Berbaktilah pada Bangsa dan Negara Tetangga Kita
Kulo nuwun, nimbrung ah !
(1) Saya senada dengan fikiran bang AZA, barangkali maksud beliau ini kok mata pelajaran di SD s/d SMA itu buanyak sekali, jauh lebih banyak saat kita dulu sekolah. Coba bayangkan, kami di rumah berbahasa Indonesia , tidak bisa ngajarin bahasa daerah. Si anak pusing bukan main belajar bahasa daerah yang grammar nya ngejelimet (lebih mudah bahas Inggris lho). Buku PMP, IPS, agama (maaf) berjubel. Padahal untuk agama, pendidikan di rumah lebih efektif, kita datangkan guru ngaji yang juga ngajarin fikih tauhid. Tujuan kurikulum mungkin bagus, tapi menurut saya terlalu berlebihan. Pengembangan wawasan sosial, kepribadian, keagamaan, kenegaraan, kecintaan terhadap NKRI, memang perlu. Tapi kok banyak amit, sampai-sampai anak2 kelelahan, kasihan otaknya yang masih kecil, dipaksakan menampung. Akibatnya apa? mereka tidak optimal menguasai ilmu2 “penting” yang lebih menentukan perjalanan karier mereka. Saya dengar di Amrik, anak2 sejak dini lebih difokuskan ke pengembangan bakat mereka (tentunya berdasarkan evaluasi psikologis). Misal, kalau mereka sangat menyenangi bidang ilmu hitam, hahaha, yah diasah terus itu, tanpa dibebani oleh kesibukan mata pelajaran yang lain. Memang dilematis, sekarang sudah terlanjur basah. Kalau ada degradasi jumlah mata pelajaran, mau dikemanain itu guru-guru, padahal yang berstatus guru honor saja masih numpuk.
(2) Tentang China dan India , saya kebetulan pernah studi bareng dengan mereka. Teman-teman dari China memang sangat serius. Kalau weekend kita ke kafe2 atau look around mumpung di negeri orang, mereka lebih senang ngamer atau diskusi kuliah dengan sesamanya. Otaknya sih biasa2 saja, tapi motivasinya tinggi sekali. Ceritanya waktu itu masih zaman Deng Shiopeng, komunis masih ortodox. Mereka berharap setelah lulus bisa jadi pegawai pemerintah dengan gaji gede dan gengsi yang tinggi, daripada jadi buruh ala komunis saat itu. Mereka berlomba-lomba membuat karya tulis di Jurnal-jurnal top Internasional. Coba kita lihat banyak sekali nama-nama Chen, Chou, Ming, Lee, dll. Tapi nama-nama seperti Suroto, Sadikin, Dadang, Ningsing, Cecep, Dulah, dll jarang sekali, hehehe.
(3) Apapun juga konsepnya apa itu BD menjadi BG, yang jelas iklim di kita kurang kondusif untuk memberi penghargaan yang layak buat para intelektual kita. Ada baiknya kita lebih merenung, betapa demikian dahsyatnya dampak dari carut marutnya law-enforcement. Bukankah karena itu kemudian menyebabkan ekonomi biaya tinggi, pungutan-pungutan liar atau resmi yang demikian banyak, loss value dari aset yang demikian drastis, dll inefisiensi perusahaan yang menyebabkan hengkangnya tenaga-tenaga profesional kita ke perusahaan asing yang kondisinya jauh lebih nyaman. Bandingkan dengan India atau China , yang kini katanya sangat baik penegakan hukumnya.
(4) Ini mungkin agak out of scope, tapi masih ada kaitannya dengan apa itu BD, BG, or BC (Inisial itu di Indonesia lebih populer dengan singkatan = Banyak Dosa, Banyak Garong, dan Banyak Calo/Curang/Cuap). Saya merasa kita sekarang membutuhkan hadirnya kembali seorang Negarawan tulen, seperti dulu Bung Karno, Bung Hatta, dan Bung Bung siapa lagi. Mungkin ada benarnya juga pendapat beberapa kalangan, bahwa kita memerlukan orang-orang fresh yang relatip terbebas dari dosa masa lalu. Logikanya kalau para pemimpin masih berlepotan harta haram atau harem, apakah mereka akan serius memberantas KKN. Tentu mereka akan sangat super hati-hati, sambil dibentengi oleh pengacara2 spesialis pembela yang gak bener, lalu menjalankan trik-triknya agar mereka tidak tersodok KPK.
(5) So, memang negara kita masih bermasalah dalam banyak hal, termasuk pendidikan, mulai dari mempersiapkan kader intelektual di tingkat pemula, hingga mengelola hasilnya setelah mereka siap terjun di sektor ril. Apapun juga strategi memajukan bangsa, tetap akan mentok jika aturan-aturan tentang hidup yang dibuat dengan sengaja oleh manusia, ternyata dengan sengaja juga masih dilanggar.
Thanks, wass.
DM
— On Tue, 9/23/08, Achmad Zaenal Abidin wrote:
From: Achmad Zaenal Abidin
Subject: [ indonesia ] [kalam_salman] Re: Berbaktilah pada Bangsa dan Negara Tetangga Kita
To: kalam_salman@
Cc: indonesia@
Date: Tuesday, September 23, 2008, 3:18 PM
Ada yang tahu ? berapa % dari seluruh potensial intelektual yang lari ke luar negeri ?
Dan berapa % dari intelektual luar negeri yang masuk ke Indonesia seperti yang dikatakan Pak Kusmayanto sebagai “brain circulation” ?
Apakah jumlah mata pelajaran/jam belajar SD, SMP dan SMA sekarang ini tidak bisa dikurangi agar biaya pendidikan lebih murah dan bisa gratis sampai lulus SMA dengan tetap kompetitif melawan kwalitas international ? atau justru harus ditambah ? tapi misalnya hanya bahasa Inggris ?
Salam,
Zaenal
At 11:05 23/09/2008, Turino Yulianto wrote:

Tinggalkan Balasan